Iran Resmi Angkat Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru, Dinasti Politik Lahir di Tengah Perang
Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru pada Minggu, 8 Maret 2026. Putra Ayatollah Ali Khamenei itu kini memimpin negara di tengah perang dan sorotan dunia.

HALLONEWS.ID – Iran memasuki babak politik baru setelah Mojtaba Khamenei resmi ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran pada Minggu (8/3/2026).
Penunjukan tersebut dilakukan oleh Majelis Ahli, lembaga beranggotakan 88 ulama yang memiliki kewenangan konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.
Mojtaba menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) lalu di Teheran.
Dengan keputusan tersebut, Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi ketiga dalam sejarah Iran sejak berdirinya Republik Islam pada 1979.
Sosok Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei lahir di Mashhad pada 8 September 1969 dan merupakan putra kedua Ayatollah Ali Khamenei.
Ia tumbuh di tengah atmosfer revolusi Islam Iran dan sejak muda telah berada di lingkaran kekuasaan politik serta religius negara tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Teheran, Mojtaba melanjutkan studi teologi di seminari Qom, salah satu pusat pendidikan ulama Syiah paling berpengaruh di Iran.
Di sana ia belajar di bawah sejumlah ulama konservatif dan kemudian menjadi bagian dari jaringan ulama yang mendukung ideologi negara.
Pernah Bertugas di Garda Revolusi
Pada usia sekitar 17 tahun, Mojtaba bergabung dengan Islamic Revolutionary Guard Corps, pasukan elite yang bertugas menjaga sistem Republik Islam.
Ia turut terlibat dalam beberapa operasi militer pada masa Perang Iran–Irak pada 1980-an, yang menjadi salah satu pengalaman penting dalam karier awalnya.
Kedekatan Mojtaba dengan IRGC kemudian menjadi faktor penting yang memperkuat pengaruhnya di dalam struktur kekuasaan Iran.
Banyak analis menilai hubungan erat dengan aparat keamanan dan militer membuatnya memiliki dukungan kuat dari kelompok garis keras di dalam negara.
“Kekuatan di Balik Layar” Politik Iran
Meski jarang tampil di depan publik dan tidak pernah memegang jabatan pemerintahan yang dipilih melalui pemilu, Mojtaba selama bertahun-tahun dikenal sebagai tokoh berpengaruh di balik layar politik Iran.
Ia disebut memainkan peran penting dalam berbagai keputusan politik strategis, termasuk dukungan terhadap sejumlah tokoh politik konservatif di Iran.
Bahkan sebagian pengamat menyebutnya sebagai “kekuatan di balik jubah ulama” karena pengaruhnya yang besar dalam lingkaran kekuasaan ayahnya.
Dinasti Politik di Republik Islam?
Penunjukan Mojtaba Khamenei juga memicu kontroversi karena dianggap membuka jalan bagi suksesi keluarga dalam sistem yang sejak awal menolak konsep monarki.
Sejak Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan dinasti kerajaan, Republik Islam menegaskan bahwa kekuasaan tidak diwariskan secara turun-temurun.
Namun dengan terpilihnya Mojtaba menggantikan ayahnya, banyak analis menilai Iran kini menghadapi fenomena yang menyerupai dinasti politik religius.
Beberapa pihak di dalam negeri juga menilai langkah tersebut memperkuat dominasi kelompok konservatif dalam pemerintahan.
Memimpin Iran di Tengah Perang
Mojtaba Khamenei mulai memimpin Iran pada saat situasi geopolitik kawasan sedang memanas.
Konflik antara Iran, Israel, dan sekutu Barat masih berlangsung dan memicu ketegangan di Timur Tengah.
Sebagai pemimpin tertinggi, ia kini memegang kekuasaan luas, termasuk kendali atas militer Iran, pengawasan terhadap program nuklir, dan arah kebijakan luar negeri negara.
Perannya akan sangat menentukan apakah Iran akan melanjutkan konfrontasi geopolitik atau membuka ruang diplomasi di masa mendatang.
Para analis menilai kepemimpinan Mojtaba Khamenei akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah politik Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun ke depan. (ren)
