Longsor Sampah di Bantargebang Tewaskan 4 Orang, Menteri LH Soroti Krisis Pengelolaan Sampah
Empat pekerja tewas tertimbun longsor sampah di TPST Bantargebang Bekasi. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq turun langsung ke lokasi dan mendorong pembenahan sistem pengelolaan sampah nasional.

HALLONEWS.ID – Tragedi longsor sampah terjadi di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, yang menewaskan empat pekerja setelah tertimbun tumpukan sampah.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq langsung meninjau lokasi kejadian pada Minggu malam (8/3/2026).
Empat korban yang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut adalah Enda Widayanti (25), Sumini (60), Dedie Sutrisno (22), dan Iwan Supriatin (40).
Hanif menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban dan menyebut kejadian ini sebagai peringatan serius bagi pemerintah untuk segera membenahi sistem pengelolaan sampah di Indonesia.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas kejadian ini. Semoga para korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, terlebih terjadi di bulan suci Ramadan. Kami juga berharap keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan,” ujar Hanif.
Volume Sampah Bantargebang Capai 8.000 Ton per Hari
Hanif menyoroti besarnya volume sampah yang masuk ke TPST Bantargebang setiap hari.
Menurutnya, tempat pembuangan sampah terbesar di Indonesia tersebut menerima sekitar 8.000 ton sampah per hari, yang sebagian besar berasal dari Jakarta dan wilayah sekitarnya.
Volume yang sangat besar ini dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat pengelolaan sampah di lokasi tersebut semakin kompleks.
Ia menegaskan bahwa kejadian longsor harus menjadi momentum untuk melakukan reformasi tata kelola sampah secara nasional.
Bantargebang akan Difokuskan untuk Sampah Anorganik
Pemerintah berencana melakukan transformasi sistem pengelolaan sampah secara bertahap.
Salah satu rencana yang tengah dipersiapkan adalah menjadikan Bantargebang sebagai lokasi yang hanya menerima sampah anorganik.
“Nantinya Bantargebang hanya menerima sampah anorganik, sedangkan jenis sampah lainnya wajib dipilah sejak dari awal,” kata Hanif.
Dengan sistem tersebut, diharapkan volume sampah yang masuk ke lokasi dapat lebih terkontrol dan proses pengolahan menjadi lebih efektif.
Pengolahan Sampah Modern di Rorotan
Selain Bantargebang, pemerintah juga sedang mengembangkan proyek percontohan pengelolaan sampah modern di kawasan Rorotan.
Di lokasi tersebut telah tersedia fasilitas pengolahan sampah dengan teknologi modern, namun operasionalnya belum optimal karena sampah yang masuk masih tercampur.
Beberapa teknologi yang disiapkan di kawasan tersebut antara lain sistem Refuse Derived Fuel (RDF) serta kerja sama dengan industri semen yang mampu mengolah hingga 5.000 ton sampah per hari.
Hanif menegaskan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif jika pemilahan sampah tidak dilakukan sejak dari sumbernya.
“Teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif jika sampah masih tercampur,” ujarnya.
Sinergi Pemerintah, TNI, dan Polri
Hanif juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menangani persoalan sampah.
Pemerintah pusat, menurutnya, mendorong sinergi antara pemerintah daerah, Tentara Nasional Indonesia, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk mempercepat penanganan persoalan sampah di berbagai wilayah.
Ia menilai persoalan sampah sebenarnya bukan masalah yang rumit, namun menjadi kompleks karena volume yang sangat besar.
“Permasalahan ini sebenarnya sederhana, tetapi menjadi sangat kompleks karena jumlahnya yang luar biasa banyak. Karena itu kita harus benar-benar serius melakukan pembenahan,” tandas Hanif. (dul)
