Jangan Asal Manis saat Sahur, Ahli Gizi RSCM Ingatkan Risiko Cepat Lapar

Dietisien RSCM mengingatkan konsumsi gula berlebih saat sahur bisa membuat cepat lapar. Pilih karbohidrat kompleks dan buah alami agar puasa lebih kuat.

Jumat, 20 Februari 2026 - 23:22 WIB
Jangan Asal Manis saat Sahur, Ahli Gizi RSCM Ingatkan Risiko Cepat Lapar
Ilustrasi-Menu sahur dengan porsi protein lebih banyak untuk membantu rasa kenyang bertahan lebih lama selama puasa. Foto: Pixabay for Hallonews

HALLONEWS.ID-Segelas teh manis hangat atau sirup dingin kerap menjadi andalan saat sahur. Rasanya menyegarkan dan dianggap bisa menambah tenaga untuk menjalani puasa seharian. Namun, kebiasaan ini ternyata tidak selalu berdampak baik bagi tubuh.

Dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Luthfianti Diana Mauludiyah, mengingatkan bahwa konsumsi gula tinggi saat sahur justru dapat memicu rasa lapar lebih cepat.

Alih-alih membuat tubuh kuat bertahan hingga sore, asupan gula sederhana dalam jumlah besar menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat, lalu turun drastis beberapa jam kemudian. Kondisi ini membuat tubuh terasa lemas dan perut kembali keroncongan sebelum waktunya berbuka.

“Minuman atau makanan manis sederhana bisa membuat fluktuasi gula darah. Akibatnya, rasa lapar datang lebih cepat,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Sahur yang Tahan Lama Bukan Soal Manis

Menurut Luthfianti, kunci sahur yang membuat kenyang lebih lama terletak pada komposisi gizi seimbang. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, atau oatmeal lebih disarankan karena dicerna lebih lambat. Asupan ini sebaiknya dilengkapi protein—seperti telur, ayam, tahu, atau tempe—serta sayur dan buah yang kaya serat.

Serat membantu memperlambat penyerapan gula, sementara protein menjaga energi tetap stabil sepanjang hari.

Berbuka: Prioritaskan Rehidrasi

Saat berbuka puasa, tubuh sebenarnya lebih membutuhkan cairan dibandingkan gula tambahan. Air putih menjadi prioritas utama untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang selama berpuasa.

“Yang paling dibutuhkan adalah rehidrasi dengan air putih, sumber energi yang cukup, dan asupan gizi seimbang,” jelasnya.

Kurma tetap bisa menjadi pilihan, tetapi dalam jumlah wajar, sekitar satu hingga tiga butir. Buah segar utuh dinilai lebih baik dibandingkan minuman sirup atau teh manis berlebihan karena mengandung gula alami yang disertai serat.

Perhatikan Batas Konsumsi Gula

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi gula tambahan kurang dari 10 persen dari total energi harian, bahkan lebih baik jika di bawah 5 persen. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan batas konsumsi gula sekitar 50 gram per hari atau setara kurang-lebih empat sendok teh.

Jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, gula tambahan dapat meningkatkan risiko diabetes, obesitas, dan kerusakan gigi.

Ramadan menjadi momentum untuk memperbaiki pola makan. Bukan berarti harus menghindari rasa manis sepenuhnya, tetapi memilih sumber manis alami dan mengonsumsinya secara bijak agar tubuh tetap bertenaga hingga waktu berbuka tiba. (ren)