Kongres PIKI 2026, Menag Dorong Lahirnya Cendekiawan Berkontribusi Nyata

Menag Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menghubungkan ilmu, kebijaksanaan, dan nilai agama dalam Kongres VII PIKI 2026 demi menciptakan harmoni sosial dan perdamaian.

Sabtu, 2 Mei 2026 - 23:00 WIB
Kongres PIKI 2026, Menag Dorong Lahirnya Cendekiawan Berkontribusi Nyata
Menteri Agama Nasaruddin Umar menghadiri Kongres VII Persekutuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) 2026 di Jakarta. Foto: Kemenag for Hallonews

HALLONEWS.ID – Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan harus diiringi dengan kebijaksanaan serta kontribusi nyata dalam kehidupan sosial.

Menurutnya, hal ini penting agar agama tidak berhenti sebagai konsep semata, tetapi hadir sebagai kekuatan yang mampu menciptakan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Kongres VII Persekutuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) 2026 di Jakarta.

Menag menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum tersebut dan berharap kongres ini mampu memperkuat kolaborasi lintas pemikiran, termasuk kerja sama antarorganisasi intelektual lintas iman.

“Saya bangga dan bersyukur. Ke depan, semoga lahir sinergi yang lebih kuat dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan,” ujarnya.

Tantangan: Hubungkan Ilmu dengan Kebutuhan Masyarakat

Menurut Nasaruddin, tantangan terbesar saat ini bukan hanya mencetak individu yang berilmu, tetapi menghadirkan sosok yang mampu mengaitkan ilmu dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa ilmuwan berfokus pada penguasaan ilmu secara mendalam dan sistematis, termasuk menghasilkan riset dan pengetahuan baru.

Sementara itu, intelektual memiliki peran lebih luas dengan mengolah serta mengaitkan ilmu dengan isu sosial, budaya, politik, dan etika.

Adapun cendekiawan, lanjutnya, merupakan figur yang memiliki kombinasi antara kedalaman ilmu, keluasan wawasan, kebijaksanaan, serta kontribusi nyata bagi publik.

“Tidak cukup hanya menjadi ilmuwan. Kita membutuhkan lebih banyak cendekiawan yang mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Menjembatani Nilai Agama dan Realitas Modern

Menag juga menyoroti pentingnya menyelaraskan nilai-nilai normatif agama dengan realitas kehidupan masyarakat modern.

Ia menilai peran penting semua pihak adalah menjembatani nilai kebenaran yang bersumber dari Tuhan dengan cara masyarakat memahaminya.

“Tugas kita adalah menghubungkan nilai-nilai agama dengan realitas sosial agar dapat dipahami dan dijalankan secara relevan,” katanya.

Agama Harus Hadirkan Harmoni Sosial

Lebih lanjut, Nasaruddin menegaskan bahwa keberhasilan Kementerian Agama Republik Indonesia tidak hanya diukur dari program atau kebijakan semata, melainkan dari dampaknya dalam menciptakan harmoni sosial.

Menurutnya, agama harus mampu menjadi solusi dalam kehidupan masyarakat, bukan sekadar ajaran normatif.

“Kementerian Agama dikatakan berhasil jika mampu menjembatani ajaran agama dengan kehidupan umat, sehingga melahirkan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya. (gin)