Negosiasi Iran vs AS di Jenewa: Uranium Jadi Batu Sandungan
Putaran ketiga pembicaraan Iran–AS di Jenewa mencatat kemajuan, namun Teheran menolak penghentian pengayaan uranium dan pembongkaran fasilitas nuklir. Diskusi teknis berlanjut di Wina.

HALLONEWS.ID — Putaran ketiga negosiasi tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2/2026) telah berakhir tanpa kesepakatan final, meskipun mediator menyebut ada kemajuan signifikan dalam pembicaraan. Delegasi dari kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan diskusi teknis di Wina, Austria minggu depan guna mencari celah diplomasi yang mungkin bisa meredakan ketegangan nuklir dan tekanan sanksi.
Diplomasi ini terjadi di tengah tekanan geopolitik yang kuat, termasuk pengerahan kekuatan militer AS di kawasan dan ancaman eskalasi konflik di Timur Tengah jika negosiasi runtuh.
Iran Tegaskan Hak Pengayaan Uranium
Isu yang paling menjadi penghambat utama adalah sikap Iran terhadap pengayaan uranium. Delegasi Iran, dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, menyatakan negosiasi berlangsung sangat intens dan serius, tetapi mempertahankan hak Teheran untuk memperkaya uranium untuk tujuan damai.
Iran menolak tuntutan AS yang ingin menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium, memindahkan cadangan uranium diperkaya keluar negeri, atau membongkar fasilitas nuklirnya sebagai bagian dari kesepakatan. AS melihat langkah-langkah seperti itu sebagai kunci untuk mencegah Tehran mendekati kemampuan pembuatan senjata nuklir, sementara Iran tetap menegaskan program nuklirnya adalah untuk keperluan damai.
Perbedaan Dasar Soal Sanksi dan Batasan Nuklir
Selain hak pengayaan, AS tetap menekan agar Iran mengurangi kemampuan nuklirnya secara permanen, sementara Iran ingin pencabutan sanksi ekonomi secara bertahap sebagai imbalan atas komitmen jangka panjangnya. Washington juga berupaya memperluas cakupan pembicaraan mencakup program rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok militan, namun Tehran menolak memasukkan hal-hal tersebut dalam perundingan nuklir.
Perundingan ini berlangsung bukan hanya di atas meja diplomasi tetapi juga di bawah bayang-bayang tekanan militer dan ketegangan geopolitik yang kuat. Amerika Serikat telah mengerahkan armada militer besar ke kawasan, termasuk kapal induk dan jet tempur, memperlihatkan dimensi koersif dari strategi diplomatiknya.
Lanjutan di Wina
Meskipun belum ada kesepakatan, kabar positifnya adalah kedua delegasi sepakat untuk melanjutkan pembicaraan pada tingkat teknis di Wina dalam waktu dekat. Pembicaraan di kota itu kemungkinan besar akan melibatkan badan pengawas nuklir internasional seperti International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk menyusun kerangka kesepakatan yang lebih rinci terkait tingkat pengayaan uranium dan mekanisme verifikasi.
Perundingan di Jenewa menandai salah satu babak paling penting sejak berakhirnya kesepakatan nuklir tahun 2015 (JCPOA), dan meskipun ada kemajuan dalam dialog, jurang perbedaan mengenai hak pengayaan dan pencabutan sanksi masih menjadi batu sandungan utama menuju penyelesaian. (ren)
