PT Astra International Tbk (ASII) Usulkan Dividen Final Rp 292 per Saham, Total Payout 2025 Capai Rp 390 per Saham

PT Astra International Tbk (ASII) usulkan dividen final Rp 292 per saham. Total dividen tahun buku 2025 mencapai Rp 390 per saham dengan payout ratio 48 persen.

Jumat, 27 Februari 2026 - 12:30 WIB
PT Astra International Tbk (ASII) Usulkan Dividen Final Rp 292 per Saham, Total Payout 2025 Capai Rp 390 per Saham
Kantor PT Astra International Tbk (ASII) (dok Yes Invest)

HALLONEWS.ID – PT Astra International Tbk (ASII) mengusulkan pembagian dividen final untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 292 per saham.

Usulan tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham yang dijadwalkan berlangsung pada April mendatang. Nilai dividen final ini lebih rendah dibandingkan dividen final tahun buku 2024 yang sebesar Rp 308 per saham.

Jika digabungkan dengan dividen interim yang telah dibayarkan pada 31 Oktober 2025 sebesar Rp 98 per saham, maka total dividen untuk tahun buku 2025 mencapai Rp 390 per saham.

Jumlah tersebut setara dengan rasio pembayaran dividen sebesar 48 persen dari laba bersih perseroan secara tahunan.

Sepanjang 2025, Astra membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 32,76 triliun, turun 3,36 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp 33,90 triliun. Laba per saham turut mengalami penurunan sekitar 3 persen menjadi Rp 810 dari Rp 836 per saham pada perio de sebelumnya.

Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro menyampaikan bahwa penurunan laba terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga batu bara serta perlambatan pasar mobil baru.

Meski demikian, ia menyatakan bahwa kinerja grup tetap resilien dengan dukungan kontribusi positif dari lini bisnis lainnya.

Berdasarkan laporan keuangan hingga 31 Desember 2025, pendapatan bersih Astra tercatat sebesar Rp 323,39 triliun, turun 1,54 persen dari Rp 328,48 triliun pada tahun sebelumnya.

Penurunan ini terutama berasal dari berkurangnya kontribusi bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta penjualan mobil baru. Kinerja tersebut sebagian diimbangi oleh pertumbuhan pada bisnis pertambangan emas, jasa keuangan, dan sepeda motor.

Secara kontribusi segmen, laba bersih 2025 ditopang oleh divisi otomotif dan mobilitas sebesar Rp 11,36 triliun, jasa keuangan Rp 8,95 triliun, alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi Rp 9,09 triliun, infrastruktur Rp 1,25 triliun, agribisnis Rp 1,17 triliun, properti Rp 719 miliar, serta teknologi informasi Rp 208 miliar.

Nilai aset bersih per saham meningkat 8 persen menjadi Rp 5.692. Sementara itu, kas bersih di luar anak usaha jasa keuangan tercatat Rp 7,2 triliun, turun dari Rp 8 triliun pada 2024. Utang bersih anak usaha jasa keuangan meningkat menjadi Rp 64,9 triliun dari Rp 60,2 triliun pada periode sebelumnya.

Tentang Perusahaan

PT Astra International Tbk didirikan di Jakarta pada tahun 1957 sebagai perusahaan perdagangan umum dengan nama Astra International Inc. Pada tahun 1990, perseroan berganti nama menjadi PT Astra International Tbk dalam rangka penawaran umum perdana saham dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode ASII.

Sesuai anggaran dasar, kegiatan usaha mencakup perdagangan umum, perindustrian, pertambangan, pengangkutan, pertanian, pembangunan, jasa dan konsultasi.

Astra mengembangkan model bisnis berbasis sinergi dan terdiversifikasi pada tujuh segmen usaha yaitu otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, serta properti. Kegiatan operasional dikelola melalui 241 anak perusahaan, ventura bersama, dan entitas asosiasi dengan dukungan 186.237 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pergerakan Harga Saham

Pada perdagangan terakhir, saham ASII berada di level Rp 6.675. Dalam satu pekan terakhir, saham ini menguat 1,91 persen, sementara secara bulanan terkoreksi 2,91 persen.

Dalam tiga bulan terakhir saham mencatat kenaikan 1,14 persen. Secara tahunan, saham ASII menguat 45,74 persen, sedangkan dalam periode tiga tahun terakhir mencatat kenaikan 16,09 persen.

Analisis Yesinvest

Secara fundamental, kinerja laba bersih Astra menunjukkan tren pertumbuhan dari Rp 20,196 triliun pada 2021 menjadi Rp 28,944 triliun pada 2022 dan Rp 33,839 triliun pada 2023, sebelum mencapai Rp 34,051 triliun pada 2024. Pada 2025, laba bersih tercatat Rp 32,769 triliun, mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan ini sejalan dengan tekanan pada harga batu bara dan pasar otomotif, meskipun diversifikasi bisnis memberikan kontribusi penopang terhadap kinerja grup secara keseluruhan.

Dari sisi valuasi, saham ASII saat ini diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba sebesar 8,28 kali. Rasio ini mencerminkan penilaian pasar terhadap prospek pertumbuhan dan stabilitas laba perseroan, dengan mempertimbangkan dinamika kinerja pada tahun buku terakhir.

Secara teknikal, pergerakan saham ASII masih berada dalam pola sideways setelah mengalami penurunan signifikan pada akhir Januari 2026. Dalam jangka pendek, harga bergerak pada kisaran Rp 7.000 hingga Rp 6.675, dengan area Rp 7.000 sebagai resistance dan Rp 6.675 sebagai support.(Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)

 

Disclaimer

Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.

Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.