Pernyataan Perdana Mojtaba Khamenei di Hari ke-13 Perang Iran: Selat Hormuz akan Tetap Ditutup
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, akhirnya mengeluarkan pernyataan publik pertama pada Kamis (12/3/2026). Ia menegaskan Iran akan terus menutup Selat Hormuz dan melanjutkan serangan terhadap target AS serta sekutunya di kawasan Teluk.

HALLONEWS.ID – Konflik di Timur Tengah memasuki hari ke-13 perang Iran pada Kamis (12/3/2026) waktu setempat, dengan perkembangan penting setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, akhirnya menyampaikan pernyataan publik pertamanya sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam bentuk teks yang dibacakan melalui televisi pemerintah Iran di Teheran. Ini menjadi kemunculan pertama Mojtaba Khamenei sejak ia menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan awal yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataannya, Mojtaba menegaskan Iran akan terus melanjutkan perlawanan terhadap serangan yang disebutnya sebagai agresi terhadap Republik Islam Iran.
Ancam Tutup Selat Hormuz
Dalam pidato tertulis tersebut, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Iran akan mempertahankan strategi untuk menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Ia mengatakan penutupan jalur tersebut merupakan bagian dari upaya Iran menekan negara-negara yang terlibat dalam konflik.
Pemimpin baru Iran itu juga memperingatkan bahwa serangan terhadap negara-negara Teluk akan terus dilakukan selama pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut tetap digunakan untuk menyerang Iran.
Beberapa negara yang disebut dalam pernyataan tersebut antara lain Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Kuwait.
Meski demikian, Mojtaba menegaskan langkah tersebut merupakan tindakan “pertahanan diri” dan bukan agresi terhadap negara-negara tetangga Iran.
IRGC Siap Jalankan Perintah
Tak lama setelah pernyataan tersebut disiarkan, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan siap menjalankan perintah pemimpin tertinggi Iran.
Komandan Angkatan Laut IRGC Alireza Tangsiri menegaskan pasukannya akan tetap menjaga strategi penutupan Selat Hormuz sekaligus memberikan serangan keras terhadap musuh Iran.
IRGC juga mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi yang disebut sebagai basis militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk di Dubai, Uni Emirat Arab, Bandara Ahmad Al-Jaber di Kuwait, pangkalan militer Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, dan basis militer AS di Irak.
Meski Iran mengklaim hanya menargetkan fasilitas militer, sejumlah laporan menyebutkan serangan rudal dan drone tersebut juga menyebabkan kerusakan pada infrastruktur sipil seperti bandara, hotel, fasilitas energi, hingga bangunan tempat tinggal.
Konflik yang semakin meluas juga berdampak pada sektor pelayaran internasional. Data dari pusat informasi maritim koalisi yang diawasi Angkatan Laut AS menyebutkan bahwa hingga Rabu (11/3/2026) sedikitnya 19 kapal komersial telah mengalami kerusakan akibat serangan di kawasan Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz.
Beberapa insiden terbaru meliputi serangan terhadap kapal di dekat Basra, Irak, serta kapal dagang yang terkena tembakan di lepas pantai Uni Emirat Arab.
Selain itu, sebuah anjungan minyak di wilayah Arab Saudi juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Pemerintah Thailand bahkan mengajukan protes diplomatik setelah sebuah kapal kargo miliknya terbakar akibat serangan di Selat Hormuz.
Kondisi Mojtaba Khamenei Masih Dipertanyakan
Di tengah eskalasi konflik, kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei masih menjadi perbincangan.
Sejumlah sumber menyebut pemimpin baru Iran itu hanya mengalami luka ringan akibat serangan awal di Teheran yang menewaskan ayahnya. Namun laporan lain menyebut Mojtaba masih menjalani perawatan medis karena mengalami luka serius.
Hingga Kamis (12/3/2026), Mojtaba Khamenei juga belum pernah tampil di depan publik sejak dilantik sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Retorika Perang Makin Memanas
Ketegangan semakin meningkat setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengeluarkan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat.
Ia memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayah Iran akan membuat Teluk Persia “berlumuran darah para penjajah.”
Konflik yang kini memasuki minggu ketiga tersebut masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara serangan rudal, drone, dan operasi militer terus berlangsung di berbagai wilayah Timur Tengah. (ren)
