Purbaya Ungkap Defisit APBN Tembus Rp164 Triliun
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap defisit APBN April 2026 mencapai Rp164,4 triliun. Meski begitu, pendapatan negara tumbuh 13,3 persen dan keseimbangan primer kembali surplus.

HALLONEWS.ID – Pemerintah mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga April 2026 masih berada dalam posisi defisit. Meski begitu, pemerintah menilai kondisi fiskal tetap terkendali di tengah tingginya kebutuhan belanja negara dan dinamika ekonomi global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan defisit APBN per April 2026 mencapai Rp164,4 triliun atau sekitar 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Defisit APBN sampai April berada di kisaran Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (19/5/2026).
Meski mengalami defisit, lanjut dikatakan Purbaya, pendapatan negara disebut masih menunjukkan pertumbuhan positif.
“Hingga akhir April 2026, realisasi penerimaan negara tercatat mencapai Rp918,4 triliun atau sekitar 29,1 persen dari target APBN tahun berjalan,” ujarnya.
Angka tersebut tumbuh 13,3 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Penerimaan negara berasal dari berbagai sektor, mulai dari pajak sebesar Rp646,3 triliun, kepabeanan dan cukai Rp100,6 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp171,3 triliun, hingga hibah sekitar Rp300 miliar.
Di sisi lain, belanja negara tercatat mencapai Rp1.082,8 triliun atau sekitar 28,2 persen dari target APBN. Nilai itu meningkat 34,3 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Belanja pemerintah pusat masih mendominasi dengan nilai Rp826 triliun, yang terdiri atas belanja kementerian/lembaga sebesar Rp400,5 triliun serta belanja non kementerian/lembaga Rp425,5 triliun.
Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) telah terealisasi sebesar Rp256,8 triliun atau sekitar 37,1 persen dari target tahun ini.
Kementerian Keuangan juga mencatat kondisi keseimbangan primer mulai menunjukkan perbaikan. Setelah sempat mengalami defisit pada Maret 2026, posisi keseimbangan primer pada April kembali mencatat surplus sebesar Rp28 triliun.
Perbaikan tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pengelolaan fiskal pemerintah masih berada dalam jalur yang relatif terjaga di tengah tekanan ekonomi global dan kebutuhan belanja nasional yang terus meningkat. (agn)
