Kapolri Bongkar Modus Baru Terorisme Lewat AI dan Game Online, Anak Muda Jadi Sasaran
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap ancaman baru terorisme digital melalui AI, media sosial, dan game online yang menyasar generasi muda dalam Rakernis Densus 88 AT Polri 2026.

HALLONEWS.ID – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyoroti perubahan pola penyebaran paham ekstremisme dan terorisme yang kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), media sosial hingga game online untuk menyasar generasi muda.
Hal itu disampaikan Kapolri saat membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror Polri 2026 yang berlangsung pada 18-20 Mei 2026.
Dalam Rakernis bertema strategi kolaboratif presisi dalam penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan dan terorisme guna menjaga stabilitas kamtibmas nasional tersebut, Kapolri meminta jajaran Densus 88 terus memperkuat kemampuan intelijen, khususnya di ruang siber.
Juru Bicara Densus 88 AT Polri Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana mengatakan, Kapolri menegaskan ancaman terorisme kini berkembang semakin kompleks dan sulit dideteksi dengan metode konvensional.
“Densus 88 AT Polri harus terus memperkuat kemampuan intelijen teknologi dan intelijen manusia guna mengantisipasi transformasi ancaman yang bergerak cepat di ruang siber,” ujar Mayndra, Selasa (20/5/2026).
Kapolri juga menyoroti munculnya fenomena radikalisasi otomatis berbasis AI, penyebaran ideologi ekstrem melalui komunitas digital, hingga pemanfaatan game online sebagai media rekrutmen dan grooming kelompok kekerasan.
Selain itu, fenomena “salad bar ideology” atau pencampuran berbagai ideologi ekstrem dinilai menjadi tantangan baru karena sulit dikenali secara langsung.
Meski demikian, Kapolri memberikan apresiasi kepada jajaran Densus 88 AT Polri atas keberhasilan menjaga status zero terrorist attack atau nihil serangan teror di Indonesia selama hampir tiga tahun berturut-turut sejak 2023 hingga 2025.
Menurutnya, capaian tersebut berkontribusi besar terhadap stabilitas nasional, meningkatnya kepercayaan publik kepada Polri, serta mendukung iklim investasi dan agenda strategis nasional.
Namun, Kapolri mengingatkan seluruh jajaran agar tidak lengah karena ancaman kini lebih banyak bergerak di dunia digital.
Data Densus 88 menunjukkan hingga pertengahan 2026 terdapat 132 anak terpapar radikalisme di sejumlah daerah. Selain itu, sebanyak 115 anak lainnya tercatat terpapar paham kekerasan dan telah mendapatkan intervensi bersama pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait.
Mayndra menjelaskan media sosial dan komunitas digital seperti True Crime Community (TCC) kini menjadi salah satu jalur masuk penyebaran paham ekstremisme.
“Fenomena ekstremisme saat ini telah berkembang dari pola ideologis konvensional menuju bentuk baru. Media sosial, platform digital, hingga game online kini dimanfaatkan sebagai sarana rekrutmen, grooming, serta penyebaran kekerasan,” jelasnya.
Dalam agenda tersebut, Kapolri juga meninjau Milestone Wall yang menampilkan perjalanan panjang penanggulangan terorisme di Indonesia mulai dari era DI/TII, Bom Bali hingga penanganan jaringan Jemaah Islamiyah.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja sama lintas sektor, Kapolri turut menyerahkan penghargaan kepada 12 tokoh dan mitra dari berbagai negara, akademisi hingga psikolog yang dinilai berkontribusi dalam upaya pencegahan terorisme di Indonesia. (min)
