Ramadan 1447 H di Negeri Minoritas: Dingin Incheon, Hangatnya Ukhuah Muslim Indonesia

Cuaca dingin dan perbedaan budaya jadi tantangan Muslim Indonesia di Incheon, Korea Selatan, jalani Ramadan 1447 H. Masjid Al Anwar jadi pusat penguat iman PMI.

Rabu, 25 Februari 2026 - 22:20 WIB
Ramadan 1447 H di Negeri Minoritas: Dingin Incheon, Hangatnya Ukhuah Muslim Indonesia
Suasana salat tarawih dan kebersamaan komunitas Muslim Indonesia di Masjid Al Anwar Incheon, Korea Selatan, saat menyambut Ramadan 1447 H. Foto: Dompet Dhuafa for Hallonews

HALLONEWS.ID – Udara musim dingin masih menggigit kawasan Seo-gu, Incheon. Saat mayoritas warga Korea Selatan larut dalam perayaan Tahun Baru Imlek atau Seollal, suasana berbeda terasa di Masjid Al Anwar Incheon. Di sudut kota itu, para Warga Negara Indonesia justru menyambut tamu agung yang lebih dinanti yaitu Ramadan 1447 Hijriah.

Bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI), mahasiswa, dan keluarga muslim yang tergabung dalam Komunitas Muslim Korea (KMI), Ramadan bukan sekadar pergantian bulan. Ia adalah pengikat rindu, penguat iman, sekaligus ruang pulang di negeri yang mayoritas penduduknya bukan muslim.

Menyambut Ramadan di Tengah Libur Seollal

Tahun ini terasa istimewa. Ramadan 1447 H bertepatan dengan masa libur panjang, sehingga banyak PMI memiliki waktu lebih untuk mempersiapkan diri. Biasanya, ritme kerja pabrik yang padat menjadi tantangan tersendiri untuk menghidupkan malam-malam ibadah. Namun kali ini, wajah-wajah penuh semangat terlihat membersihkan masjid, menyiapkan konsumsi sederhana, hingga menyusun jadwal tarawih dan kajian.

“Kami bersyukur atas kesempatan ini. Momentum ini adalah karunia Allah. Semoga Ramadan menjadi sarana memperkuat ukhuwah dan memperdalam pemahaman agama,” ujar Imam Hanafi, Presiden KMI.

Masjid Al Anwar bukan hanya tempat ibadah. Ia menjadi pusat aktivitas sosial, ruang belajar Al-Qur’an, tempat berbagi kabar dari tanah air, hingga pos penguat mental bagi para PMI yang jauh dari keluarga.

Dai Ambassador Hadir Menguatkan

Kehadiran Dai Ambassador dari Dompet Dhuafa, M. Luqman Hambali, menjadi suntikan semangat tersendiri. Dalam kultum pembuka Ramadan, ia mengingatkan bahwa rasa bahagia menyambut Ramadan adalah bagian dari tanda keimanan.

“Para ulama menjelaskan, siapa yang bergembira dengan datangnya Ramadan, Allah haramkan jasadnya dari api neraka. Kebahagiaan itu harus tercermin dalam persiapan diri dan kesungguhan memperbaiki amal,” tuturnya.

Bagi para PMI, pesan itu terasa menyentuh. Di negeri minoritas muslim, menjaga konsistensi ibadah bukan perkara ringan. Lingkungan kerja yang heterogen, tantangan bahasa, hingga perbedaan budaya kerap menjadi ujian harian.

Namun justru dalam kondisi itulah, Ramadan menghadirkan energi spiritual yang berbeda.

Tantangan Cuaca dan Durasi Puasa

Federasi Muslim Korea atau Korean Muslim Federation menetapkan awal Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Sejak itu, saf-saf tarawih di Masjid Al Anwar terisi rapat.

Sebagian jemaah masih mengenakan jaket tebal karena dingin belum sepenuhnya pergi. Ada yang datang langsung dari tempat kerja, wajah lelah berpadu harap. Di sela rakaat, doa-doa lirih dipanjatkan: untuk orang tua di Indonesia, untuk anak dan pasangan yang jauh, untuk rezeki halal, dan untuk keteguhan istikamah.

Cuaca dingin dan perbedaan durasi puasa menjadi tantangan tersendiri. Namun para PMI saling menguatkan, berbagi tips menjaga stamina, hingga memastikan tidak ada yang merasa sendiri.

Ramadan di Incheon bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ia tentang membangun solidaritas di tanah rantau.

Tentang Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah lembaga filantropi Islam yang telah berkhidmat lebih dari tiga dekade dalam pemberdayaan kaum dhuafa melalui pendekatan budaya, welasasih, dan wirausaha sosial.

Programnya mencakup lima pilar Utama yaitu pendidikan, Kesehatan, ekonomi, sosial dan kebencanaan, dakwah dan budaya.

Melalui pengiriman Dai Ambassador ke berbagai penjuru dunia, Dompet Dhuafa turut memperkuat komunitas muslim diaspora, termasuk di Korea Selatan. (ver)