Ratusan Siswa di Klaten dan Anambas Keracunan MBG, Ini Penyebabnya
Kasus keracunan massal program MBG terjadi di Klaten dan Anambas. Ditemukan bakteri hingga boraks pada makanan siswa.

HALLONEWS.ID — Kasus keracunan massal yang diduga terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di dua daerah berbeda, yakni di Kabupaten Klaten dan Kabupaten Kepulauan Anambas.
Ratusan siswa terdampak setelah mengonsumsi makanan yang disediakan dalam program tersebut.
Di Klaten, sekitar 500 orang yang terdiri dari siswa dan guru di Kecamatan Tulung mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, pusing, hingga diare. Beberapa di antaranya bahkan sempat menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Klaten Anggit Budiarto mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kandungan bakteri Bacillus sp pada sejumlah sampel makanan.
“Sampel telur puyuh, galantin, maupun kuah timlo positif mengandung Bacillus sp. Bakteri ini yang menyebabkan gejala keracunan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bakteri tersebut berbeda dengan E. coli yang umumnya berasal dari air. Bacillus sp dapat berkembang melalui udara dan berisiko mencemari makanan jika proses pengolahan tidak higienis.
Sementara itu, kasus serupa juga terjadi di Anambas dengan jumlah korban mencapai 162 siswa. Hasil investigasi menunjukkan temuan yang lebih serius, yakni adanya kandungan boraks dalam makanan yang dikonsumsi siswa.
Ketua Tim Investigasi Badan Gizi Nasional Arie Karimah Muhammad menyebut kandungan boraks ditemukan pada menu seperti telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayuran.
“Hasil uji menunjukkan adanya boraks dengan kadar berkisar 100 hingga 5.000 mg/L,” ungkapnya.
Selain itu, uji laboratorium juga menemukan kontaminasi bakteri berbahaya seperti Escherichia coli (E. coli) dan Bacillus cereus dalam makanan tersebut.
Menurut Arie, penggunaan boraks dalam makanan sangat tidak wajar dan berbahaya bagi kesehatan, terlebih bahan makanan seperti telur dan sayur sebenarnya tidak memerlukan tambahan bahan kimia.
Dua kasus ini menjadi sorotan serius terhadap pelaksanaan program MBG, terutama dalam aspek pengawasan kualitas dan keamanan pangan.
Pemerintah diharapkan memperketat standar distribusi dan pengolahan makanan agar kejadian serupa tidak terulang.
Kasus ini juga menegaskan pentingnya pengawasan ketat dalam program pangan skala besar, khususnya yang menyasar anak-anak dan pelajar sebagai penerima manfaat utama. (*)
