Ritual Mambalun, Warisan Hidup Mamasa yang Tak Lekang oleh Waktu
Tradisi membalun yang hidup di masyarakat Mamasa, Sulawesi Barat, membutuhkan berbagai jenis kain seperti katun putih, kain saung, selimut, dan sambu sebagai kain tenun khas Mamasa.

HALLONEWS.ID – Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, menyimpan kekayaan tradisi dan adat yang terus dijaga, salah satunya ritual mambalun atau membalun jenazah, jasad, dan tulang belulang leluhur.
Tradisi mambalun jasad dan tulang belulang leluhur dilakukan keluarga keturunan Pana-Sara di pemakaman Rante Induk, Kelurahan Tawalian, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa, pada Rabu (1/4/2026) dan Kamis (2/4/2026).
Keturunan Pana-Sara yang berasal dari Kecamatan Simbuang, Tana Toraja, kini telah mencapai generasi ketujuh yang masih mempertahankan ritual tersebut.
Makam keluarga berbentuk rumah Tongkonan khas Mamasa menjadi tempat penyimpanan 21 jasad dan tulang belulang, namun hanya 20 yang menjalani proses mambalun.

Foto: Hallonews/Pingkan Elita Dundu
Salah satu di antaranya adalah tulang belulang Malia atau Ambe Milla yang meninggal pada 1950 dan merupakan anak tertua dari Pana-Sara.
Saat wafat, jenazahnya dimakamkan di dalam tanah, kemudian pada 2009 dibalun secara sederhana menggunakan dua sarung dan satu sambuk berwarna hitam.
Sementara itu, jasad terbaru yang masih berada dalam peti dimasukkan ke dalam makam keluarga tersebut pada 2023.\
Darah Tiga Hewan
Mambalun dimulai sejak dini hari sebelum fajar dan berlangsung sepanjang hari, melibatkan keluarga dari setiap rumpun hingga malam.
Proses membalun membutuhkan berbagai jenis kain seperti katun putih, kain saung, selimut, dan sambu sebagai kain tenun khas Mamasa.
Jumlah kain yang digunakan bergantung pada kesiapan masing-masing keluarga dalam menjalankan ritual tersebut.
Rangkaian ritual diawali dengan ibadah pembukaan sebelum dilanjutkan penyembelihan tiga jenis hewan sebagai bagian dari tradisi.
Tokoh Adat Tawalian, Alexius P, menyatakan bahwa keluarga wajib mengorbankan darah dari ayam, babi, dan anjing sebagai syarat dalam pelaksanaan mambalun.
“Dipercaya, darah tiga hewan ini sebagai kurban persembahan kepada leluhur dan keluarga yang sudah meninggal,” kata Alexius di sela-sela acara mambalun, Rabu (1/4/2026). Selanjutnya, dilakukan pemotongan babi dan kerbau.
Anggota Lembaga Adat Kecamatan Tanduk Kalua, Mamasa, Demmangayak Mangetten (76) mengatakan, darah anjing merupakan simbol permohonan izin sebelum memindahkan jasad yang sudah di atas tanah.
Ritual awal juga ditandai dengan meletakkan masing-masing enam daun sirih dan biji pinang yang diletakkan di atas daun sirih. *
(Pingkan Elita Dundu, Wartawan dari Tangerang)
