Solidaritas Eropa Retak: Orbán Blokir Dana €90 Miliar, Kyiv Hanya Terima Janji
Viktor Orbán memveto pinjaman €90 miliar untuk Ukraina, memicu retakan di Uni Eropa saat von der Leyen dan Costa berkunjung ke Kyiv.

HALLONEWS.ID-Empat tahun setelah invasi skala penuh Rusia, para pemimpin Uni Eropa datang ke Kyiv untuk menunjukkan solidaritas, Selasa (24/2/2026). Namun di balik simbol dukungan itu, retakan serius justru mencuat di dalam blok sendiri.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa António Costa berdiri bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, berjanji bahwa komitmen finansial untuk Ukraina tetap berlaku.
Namun, janji itu datang tanpa kepastian dana €90 miliar yang sebelumnya telah disepakati para pemimpin Uni Eropa pada Desember lalu.
Secara mengejutkan, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán memveto dua agenda sekaligus yaitu pinjaman €90 miliar untuk kebutuhan militer dan fiskal Ukraina periode 2026–2027, dan paket sanksi ke-20 terhadap Rusia, termasuk pembatasan layanan maritim untuk kapal tanker minyak.
Langkah ini membuat rencana besar yang hampir final mendadak runtuh hanya beberapa hari sebelum peringatan invasi.
Orbán menuding Ukraina melakukan “pemerasan” terkait pasokan minyak Rusia melalui pipa Druzhba.
Pipa Druzhba Jadi Titik Panas
Perselisihan memuncak setelah pipa minyak era Soviet, Druzhba, mengalami kerusakan berat akibat serangan drone pada akhir Januari.
Budapest secara tegas menyalahkan Kyiv atas gangguan pasokan minyak Rusia, meski kerusakan tersebut secara luas dikaitkan dengan Moskow.
Zelenskyy menanggapi dingin soal kemungkinan perbaikan pipa. “Untuk merenovasi demi apa? Untuk kehilangan lebih banyak nyawa? Itu harga yang terlalu mahal,” ujarnya.
Meski tanpa pengumuman resmi dana raksasa, von der Leyen menegaskan komitmen itu tidak bisa dibatalkan.
“Janji ini tidak dapat dilanggar. Kami akan memenuhi kewajiban pinjaman ini dengan satu atau lain cara,” katanya.
Ia menyebut Komisi Eropa memiliki berbagai opsi untuk memastikan bantuan tetap mengalir, bahkan jika harus mencari mekanisme alternatif di luar konsensus penuh.
Costa pun mendesak Hungaria “segera” mencabut vetonya, menekankan bahwa keputusan Dewan Eropa harus dihormati semua negara anggota.
Kyiv Butuh Dana sebelum April
Situasi ini terjadi pada momen krusial. Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mendorong pembicaraan damai. Ukraina membutuhkan suntikan dana baru paling lambat April. Orbán menghadapi tekanan politik domestik menjelang pemilu di Hungaria.
Jika kebuntuan berlanjut, beban finansial Ukraina bisa semakin berat di tengah perang yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Selama ini, Uni Eropa dikenal solid dalam menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Namun veto terbaru ini menunjukkan bahwa solidaritas internal bukanlah sesuatu yang tak tergoyahkan.
Kunjungan para pemimpin Eropa ke Kyiv seharusnya menjadi simbol kekuatan kolektif. Namun yang tampak justru gambaran kontras: dukungan moral tinggi, tetapi keputusan finansial terganjal politik internal.
Kini pertanyaan besarnya bukan hanya kapan perang berakhir, melainkan apakah Uni Eropa mampu menjaga persatuan strategisnya di tengah tekanan geopolitik dan kepentingan nasional yang saling berbenturan? (ren)
