4 Tahun Perang Ukraina: Zelenskyy Klaim Putin Gagal, Dunia Terbelah di PBB
Empat tahun invasi Rusia, Zelenskyy klaim Putin gagal capai tujuan perang. 107 negara dukung Ukraina di PBB, namun dunia tetap terbelah.

HALLONEWS.ID-Empat tahun setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa Vladimir Putin gagal mencapai tujuan perangnya.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa pagi (24/2/2026), Zelenskyy menyebut Rusia tidak berhasil merebut Kyiv, tidak menghancurkan rakyat Ukraina, dan tidak menghapus kedaulatan negaranya.
“Empat tahun lalu, Putin memulai apa yang ia kira akan menjadi serangan tiga hari untuk merebut Kyiv. Hari ini kita bisa mengatakan: kita mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan kita,” tegasnya seperti dilansir Sky News, Rabu (25/2/2026).
Ia juga bersumpah untuk terus memperjuangkan “perdamaian dan keadilan”.
107 Negara Bela Ukraina di PBB
Di tengah peringatan tersebut, Majelis Umum PBB menggelar pemungutan suara atas resolusi berjudul “Dukungan untuk perdamaian abadi di Ukraina”.
Sebanyak 107 negara mendukung resolusi tersebut. Namun, 51 negara, termasuk Amerika Serikat dan Hungaria, memilih abstain. Sementara 12 negara, termasuk Rusia dan Belarus, menolak.
Zelenskyy menyatakan negara-negara yang mendukung Ukraina “berdiri membela kehidupan”.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut perang ini sebagai “noda pada hati nurani kolektif dunia” dan kembali menyerukan gencatan senjata segera.
Inggris Perketat Sanksi, Rusia Balas Retorika Nuklir
Di Eropa, Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper memperingatkan bahwa agresi Rusia tidak akan berhenti dan mengancam keamanan Eropa serta Inggris.
Inggris mengumumkan 300 sanksi ekonomi baru terhadap Rusia. Namun, Amerika Serikat belum mengumumkan paket sanksi tambahan.
Ketegangan meningkat setelah utusan khusus Putin, Kirill Dmitriev, menyerukan agar Perdana Menteri Inggris mengundurkan diri atas tuduhan bahwa Inggris memasok senjata nuklir ke Ukraina—klaim yang dibantah keras London.
Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) sebelumnya menuding Inggris dan Prancis berencana memasok bom nuklir atau “bom kotor” ke Kyiv tanpa menyertakan bukti.
Kelompok G7 dalam pernyataan bersama menegaskan dukungan berkelanjutan terhadap kedaulatan Ukraina.
Mereka menyebut hanya Ukraina dan Rusia yang dapat mencapai kesepakatan damai melalui negosiasi dengan itikad baik, sembari memuji upaya Presiden AS Donald Trump dalam memulai jalur dialog.
Namun Kremlin menegaskan “operasi militer khusus” belum mencapai tujuan dan akan terus berlanjut.
Kepala misi pemantauan HAM PBB di Ukraina, Danielle Bell, melaporkan sedikitnya 15.000 warga sipil tewas dan lebih dari 41.000 terluka sejak 2022.
Ia juga menyoroti dugaan “penyiksaan sistematis” terhadap tawanan perang dan warga sipil di wilayah pendudukan.
Apakah Ini Menuju Perang Dunia?
Zelenskyy sebelumnya menyebut konflik ini berpotensi menjadi awal perang dunia ketiga. Namun analis militer Inggris Profesor Michael Clarke menilai skenario tersebut belum terlihat.
Menurutnya, konflik global memang meningkat, tetapi belum ada kekuatan besar yang menyatukan berbagai perang menjadi konflik dunia seperti 1914 atau 1939.
Empat Tahun yang Mengubah Segalanya
Sejak 24 Februari 2022, perang telah mengubah lanskap geopolitik Eropa: Finlandia dan Swedia resmi bergabung dengan NATO. Rusia menghadapi ribuan sanksi ekonomi. Ukraina menjadi penerima bantuan militer terbesar dalam sejarah modern Eropa.
Zelenskyy sendiri mengakui perang telah mengubah hidupnya sepenuhnya, ia tak lagi hidup normal, jarang bertemu keluarga, dan terus berjaga menghadapi serangan udara.
Empat tahun berlalu, garis depan masih bergeser, diplomasi belum membuahkan hasil nyata, dan dunia tetap terbelah.
Pertanyaannya kini: apakah 2026 menjadi awal de-eskalasi, atau justru babak baru konflik berkepanjangan? (ren)
