Starmer dan Trump Sepakat Selat Hormuz Harus Dibuka, Dunia Khawatir Krisis Minyak

PM Inggris Keir Starmer dan Presiden AS Donald Trump sepakat pembukaan Selat Hormuz sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar energi global di tengah konflik Timur Tengah.

Senin, 23 Maret 2026 - 11:31 WIB
Starmer dan Trump Sepakat Selat Hormuz Harus Dibuka, Dunia Khawatir Krisis Minyak
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer saat pertemuan dalam kunjungan kenegaraan di Inggris pada September lalu. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan pembicaraan melalui telepon pada Minggu malam, 22 Maret 2026, membahas situasi terbaru di Timur Tengah, khususnya terkait pentingnya membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran global.

Menurut juru bicara Downing Street, kedua pemimpin sepakat bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar energi dunia yang saat ini terganggu akibat konflik di Timur Tengah.

“Para pemimpin membahas situasi terkini di Timur Tengah dan khususnya perlunya membuka kembali Selat Hormuz untuk melanjutkan pelayaran global. Mereka sepakat bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sangat penting untuk memastikan stabilitas di pasar energi global,” demikian pernyataan juru bicara Downing Street, seperti dikutip dari Sky News, Senin (23/3/2026).

Keduanya juga sepakat untuk kembali melakukan pembicaraan dalam waktu dekat guna membahas perkembangan situasi di kawasan tersebut.

Kekhawatiran Krisis Minyak Global

Kekhawatiran global semakin meningkat karena jika Amerika Serikat melaksanakan ultimatum terhadap Iran dan Iran melakukan pembalasan, maka konflik dapat memperburuk situasi pasokan minyak dunia yang sudah terganggu akibat perang di Timur Tengah.

Sejak konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkat sekitar tiga minggu terakhir, ketegangan juga terjadi di media sosial antara pejabat negara-negara tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, melalui unggahan di platform X menyatakan bahwa Selat Hormuz sebenarnya tidak sepenuhnya ditutup, namun banyak kapal yang menunda pelayaran karena perusahaan asuransi khawatir terhadap risiko perang.

“Selat Hormuz tidak tertutup. Kapal-kapal ragu-ragu karena perusahaan asuransi takut perang yang Anda picu akan mempengaruhi mereka. Kebebasan navigasi tidak dapat terwujud tanpa kebebasan perdagangan,” tulis Araghchi.

Namun demikian, Iran dituduh secara efektif telah menutup Selat Hormuz sejak konflik dimulai dan disebut menargetkan kapal-kapal komersial di jalur pelayaran strategis tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat penting karena sebagian besar minyak dunia dikirim melalui jalur ini setiap hari.

Iran Ancam Targetkan Keuangan AS

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan ancaman baru terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia menyatakan Iran dapat menargetkan lembaga keuangan yang mendanai anggaran militer Amerika Serikat.

“Selain pangkalan militer, lembaga keuangan yang mendanai anggaran militer AS dianggap sebagai target yang sah,” kata Ghalibaf.

Ia bahkan menyebut obligasi pemerintah Amerika Serikat sebagai salah satu target potensial dan memperingatkan investor internasional.

“Obligasi Departemen Keuangan AS tercemar oleh darah rakyat Iran. Jika Anda tetap membelinya, Anda sebenarnya menyerang aset dan markas utama Anda sendiri,” ujarnya.

AS Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia

Di sisi lain, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya di seluruh dunia, khususnya di Timur Tengah, untuk meningkatkan kewaspadaan.

Dalam pernyataan resminya, Pemerintah AS memperingatkan bahwa konflik dapat menyebabkan gangguan perjalanan, penutupan wilayah udara secara berkala, serta potensi serangan terhadap fasilitas diplomatik dan kepentingan Amerika Serikat di berbagai negara.

Pemerintah AS juga menyebut kelompok yang berafiliasi dengan Iran berpotensi menargetkan kepentingan Amerika Serikat maupun warga negara Amerika di berbagai wilayah dunia.

Situasi ini menunjukkan konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut, tetapi juga berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi global, terutama terkait pasokan energi dan jalur perdagangan internasional melalui Selat Hormuz. (ren)