Pasar Saham Asia Anjlok Akibat Perang Iran, Harga Minyak dan Inflasi Global Terancam Naik

Bursa saham Asia anjlok tajam setelah konflik Iran dan ancaman penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak dan inflasi global.

Senin, 23 Maret 2026 - 11:49 WIB
Pasar Saham Asia Anjlok Akibat Perang Iran, Harga Minyak dan Inflasi Global Terancam Naik
Ruang transaksi di Bank Hana, pusat kota Seoul, Korea Selatan, Senin (23/3/2026), saat pasar saham Asia mengalami penurunan akibat eskalasi konflik Iran dan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Foto: Yonhap for Hallonews

HALLONEWS.ID – Pasar saham utama di kawasan Asia mengalami penurunan tajam menyusul meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat, serta ancaman penutupan Selat Hormuz yang dapat mengganggu pasokan minyak dunia.

Indeks saham Jepang, Nikkei 225, tercatat turun sekitar 3,8 persen, sementara indeks yang lebih luas, TOPIX, juga melemah sekitar 3,36 persen pada awal perdagangan.

Analis pasar dari Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, Shuutarou Yasuda, mengatakan bahwa penutupan Selat Hormuz akan berdampak besar terhadap harga energi global dan inflasi.

“Jika Selat Hormuz tetap tertutup untuk waktu yang lama, harga minyak akan naik lebih tinggi dan mempercepat inflasi,” kata Yasuda, seperti dilansir Sky News, Senin (23/3/2026).

Ia juga menambahkan bahwa kenaikan harga energi berpotensi mendorong kenaikan suku bunga global.

“Jika harga minyak naik, suku bunga global mungkin akan dinaikkan,” ujarnya.

Penutupan Selat Hormuz menjadi ancaman serius bagi Jepang karena sekitar 90 persen impor minyak negara tersebut melewati jalur pelayaran strategis tersebut.

Bursa China, Hong Kong, dan Korea Selatan Ikut Anjlok

Tekanan pasar juga terjadi di China dan Hong Kong. Indeks saham unggulan China, CSI 300 Index, dan Shanghai Composite Index, masing-masing turun sekitar 2 persen pada pembukaan perdagangan.

Sementara itu, indeks saham Hong Kong, Hang Seng Index, turun hampir 3 persen.

Di Korea Selatan, indeks acuan KOSPI mengalami penurunan paling tajam, yakni sekitar 5 persen, menunjukkan kekhawatiran investor terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global.

Penurunan pasar saham Asia ini dipicu kekhawatiran bahwa konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel dapat mengganggu jalur distribusi energi dunia, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak global.

Jika jalur tersebut terganggu atau ditutup, harga minyak dunia diperkirakan akan melonjak tajam dan berpotensi memicu inflasi global serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Situasi geopolitik di Timur Tengah kini menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi pasar keuangan global, harga energi, serta stabilitas ekonomi internasional. (ren)