Transformasi Nusakambangan Tuai Pujian DPR, Dari Pulau Penjara Menjadi Kawasan Ketahanan Pangan

Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto mengapresiasi transformasi Pulau Nusakambangan menjadi kawasan ketahanan pangan produktif yang dikembangkan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di bawah kepemimpinan Agus Andrianto.

Minggu, 21 Juni 2026 - 21:09 WIB
Transformasi Nusakambangan Tuai Pujian DPR, Dari Pulau Penjara Menjadi Kawasan Ketahanan Pangan
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto meninjau sejumlah lokasi program ketahanan pangan dan pembinaan kemandirian warga binaan di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Hallonews/Feris Pakpahan.

HALLONEWS.ID – Selama puluhan tahun, Pulau Nusakambangan di Cilacap, Jawa Tengah, dikenal sebagai lokasi lembaga pemasyarakatan berkeamanan tinggi. Citra sebagai “pulau penjara” pun melekat kuat di kawasan yang berada di pesisir selatan Pulau Jawa tersebut.

Namun kini, Nusakambangan menunjukkan wajah baru. Di bawah pengembangan yang dilakukan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, sejumlah lahan yang sebelumnya tidak produktif berhasil diubah menjadi kawasan ketahanan pangan yang menghasilkan berbagai komoditas strategis.

Perubahan tersebut mendapat perhatian dan apresiasi dari Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, saat melakukan kunjungan kerja bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto ke Pulau Nusakambangan, Sabtu (20/6/2026).

Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau berbagai program pembinaan kemandirian dan ketahanan pangan yang dikelola jajaran pemasyarakatan bersama warga binaan. Beragam sektor usaha produktif kini berkembang di Nusakambangan, mulai dari budidaya udang vaname, sidat, dan ikan air tawar, hingga peternakan ayam serta bebek petelur.

Selain itu, kawasan tersebut juga mengembangkan sektor hortikultura dan agribisnis, seperti budidaya tanaman anggur dan anggrek yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menjelaskan, program tersebut merupakan bagian dari strategi optimalisasi aset negara melalui pemanfaatan lahan yang selama ini belum digunakan secara maksimal.
“Kami mengubah lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi kawasan yang mampu mendukung ketahanan pangan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sarana pembinaan bagi warga binaan,” ujar Agus, Minggu (21/6/2026).

Menurutnya, hasil produksi yang dihasilkan dari Nusakambangan tidak hanya diperuntukkan bagi kebutuhan internal lembaga pemasyarakatan, tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung ketersediaan pasokan pangan bagi masyarakat.

“Harapannya, program ini tidak hanya menciptakan kemandirian pangan di lingkungan pemasyarakatan, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap upaya menjaga stabilitas pasokan pangan nasional,” katanya.

Sementara itu, Titiek Soeharto mengaku terkesan dengan perubahan yang terjadi di Nusakambangan. Ia menilai transformasi kawasan tersebut menjadi bukti bahwa lahan tidur dapat menjadi aset produktif apabila dikelola dengan visi yang jelas, perencanaan yang matang, dan komitmen yang kuat.

“Ini langkah yang luar biasa. Nusakambangan yang selama ini memiliki citra sebagai kawasan pemasyarakatan kini mampu memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional,” ujar Titiek.

Ia menambahkan, keberhasilan pengembangan kawasan produktif di Nusakambangan dapat menjadi contoh bagi berbagai daerah di Indonesia dalam mengoptimalkan potensi lahan yang dimiliki untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan nasional.

“Model seperti ini layak dikembangkan dan direplikasi di daerah lain sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (fer)