Trump Ultimatum Iran: “Menyerah Tanpa Syarat atau Perang Berlanjut”

Presiden AS Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Iran pada Jumat (7/3/2026), menuntut “penyerahan tanpa syarat” sebagai satu-satunya jalan mengakhiri perang yang terus meluas di Timur Tengah.

Sabtu, 7 Maret 2026 - 11:15 WIB
Trump Ultimatum Iran: “Menyerah Tanpa Syarat atau Perang Berlanjut”
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan tuntutan agar Iran menyerah tanpa syarat sebagai syarat menghentikan perang yang melibatkan Israel dan sekutunya. Foto: Foxnews for Hallonews

HALLONEWS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Iran di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat di Timur Tengah.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Jumat (7/3/2026) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan perang adalah jika Teheran menyerah tanpa syarat.

“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali penyerahan tanpa syarat,” tulis Trump dalam pernyataannya.

Trump juga menyebut bahwa jika Iran mematuhi tuntutan tersebut dan memiliki kepemimpinan baru yang dapat diterima komunitas internasional, Amerika Serikat bersama sekutu-sekutunya siap membantu membangun kembali perekonomian negara itu.

“Setelah itu, dan setelah terpilihnya pemimpin yang hebat dan dapat diterima, kami dan sekutu kami akan bekerja tanpa lelah untuk menyelamatkan Iran dari ambang kehancuran,” kata Trump.

Ia bahkan menyebut gagasannya untuk “Make Iran Great Again” (MIGA), istilah yang mengingatkan pada slogan politiknya sebelumnya.

Israel Gencarkan Serangan

Di saat yang sama, militer Israel mengklaim operasi udara selama sepekan terakhir telah melumpuhkan sebagian besar peluncur rudal serta sistem pertahanan udara Iran.

Pada Jumat (7/3/2026), Israel juga mengumumkan dimulainya “gelombang serangan skala besar” yang menargetkan berbagai infrastruktur strategis Iran.

Serangan tersebut dilakukan setelah konflik antara kedua negara terus meningkat selama tujuh hari terakhir.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memperingatkan bahwa operasi militer Washington dapat semakin diperluas.

“Serangan terhadap Iran akan meningkat secara dramatis jika diperlukan,” ujar Hegseth dalam pernyataan yang dikutip media internasional.

Menurut Washington, tujuan operasi militer tersebut adalah menghancurkan program rudal Iran, melumpuhkan kemampuan militernya, serta memastikan negara itu tidak mampu mengembangkan senjata nuklir.

Iran Luncurkan Serangan Balasan

Di tengah tekanan militer tersebut, Iran melancarkan serangan balasan pada Jumat pagi (7/3/2026) dengan menargetkan wilayah yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Seorang juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, bahkan mengklaim bahwa pasukan Iran telah menargetkan kapal tanker minyak milik Amerika Serikat di Teluk Persia.

“Sebuah kapal tanker minyak milik Amerika Serikat di dekat perbatasan Kuwait telah menjadi sasaran dan terbakar,” kata Zolfaghari seperti dikutip televisi pemerintah Iran.

Teheran juga mengancam akan menargetkan kapal-kapal berbendera Amerika yang melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Dugaan Keterlibatan Rusia

Di tengah konflik yang semakin meluas, laporan intelijen Amerika Serikat menyebut bahwa Rusia diduga memberikan informasi intelijen kepada Iran.

Informasi tersebut diyakini dapat membantu Teheran menargetkan kapal perang, pesawat, dan aset militer AS di kawasan.

Meski demikian, pejabat AS menegaskan belum ada bukti bahwa Moskow secara langsung mengarahkan Iran untuk menggunakan informasi tersebut dalam operasi militer.

Hubungan antara Rusia dan Iran memang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak perang Rusia melawan Ukraina.

Negara-Negara Mulai Bersiap

Ketegangan yang meningkat juga mendorong berbagai negara mengambil langkah antisipatif.

Prancis mengerahkan kapal induk helikopter ke Laut Mediterania untuk memperkuat kehadiran militernya di kawasan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan berkoordinasi dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni serta Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis guna memastikan keamanan jalur pelayaran di kawasan.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai memindahkan sebagian stafnya dari Teheran ke Azerbaijan demi alasan keamanan.

Dengan berbagai eskalasi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, konflik antara Iran dan Israel kini berpotensi meluas menjadi krisis regional yang melibatkan semakin banyak negara di Timur Tengah. (ren)