Waspada! Dosen FK IPB Bongkar Bahaya Vape: Risiko Kanker dan Kerusakan Otak

Dosen FK IPB University, Dr. Desdiani, memperingatkan bahaya vape yang mengandung nikotin, logam berat, dan zat karsinogenik. Risiko kanker dan kerusakan otak bisa muncul 10–15 tahun mendatang.

Rabu, 25 Februari 2026 - 23:40 WIB
Waspada! Dosen FK IPB Bongkar Bahaya Vape: Risiko Kanker dan Kerusakan Otak
Dr. dr. Desdiani, Sp.P., dosen Fakultas Kedokteran IPB University, mengingatkan bahwa vape mengandung nikotin, logam berat, dan senyawa karsinogenik yang berisiko memicu kanker, gangguan paru, hingga kerusakan otak dalam jangka panjang. Foto: Hallonews/Yopy

HALLONEWS.ID – Di balik desain modern dan aneka rasa yang menggoda, vape atau rokok elektrik menyimpan ancaman kesehatan serius. Peringatan ini disampaikan Dr. Desdiani, dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University sekaligus dokter spesialis paru.

Menurutnya, anggapan bahwa vape lebih aman dibanding rokok tembakau adalah keliru. Dampaknya memang tidak selalu terasa dalam waktu dekat, tetapi risiko penyakit berat bisa muncul 10 hingga 15 tahun mendatang, saat kerusakan organ sudah berlangsung progresif.

Kerusakan Datang Perlahan, Risiko Besar di Masa Depan

Desdiani menjelaskan, aerosol yang dihasilkan vape tetap mengandung berbagai zat kimia berbahaya. Paparan formaldehida, asetaldehida, dan akrolein dapat memicu mutasi DNA yang berujung pada kanker paru, kanker mulut, hingga kanker saluran napas.

“Kerusakan terjadi perlahan. Banyak orang merasa aman karena tidak langsung sakit, padahal proses perubahan sel sudah berjalan,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).

Selain kanker, penggunaan jangka panjang juga meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), peradangan saluran napas, hingga kondisi serius seperti popcorn lung akibat paparan diasetil dari zat perisa.

Nikotin Tembus Otak dalam Hitungan Menit

Salah satu bahaya utama vape adalah nikotin. Dalam 6–10 menit setelah dihirup, zat ini sudah mencapai otak dan memicu efek ketergantungan.

Nikotin tidak hanya membuat kecanduan, tetapi juga meningkatkan tekanan darah, mempercepat denyut jantung, serta memperbesar risiko penyakit jantung koroner. Pada remaja, nikotin berpotensi mengganggu perkembangan otak yang masih dalam fase pertumbuhan.

Dalam jangka panjang, paparan nikotin dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, penurunan daya ingat, hingga ketergantungan berat.

Kandungan Beracun di Balik Uap

Meski tidak melalui proses pembakaran seperti rokok konvensional, vape bekerja dengan memanaskan cairan (e-liquid) hingga menjadi aerosol. Proses pemanasan ini justru dapat menghasilkan senyawa toksik.

Beberapa kandungan berbahaya yang ditemukan dalam vape meliputi nikotin (zat adiktif utama), propilen glikol dan gliserin sayur yang dapat menghasilkan iritan saat dipanaskan, perisa mengandung diasetil yang dikaitkan dengan kerusakan paru, logam berat seperti timbal, kromium, dan nikel; senyawa karsinogenik seperti formaldehida dan acrolein.

“Zat-zat ini bersifat toksik dan karsinogenik. Dampaknya tidak hanya pada paru-paru, tetapi juga organ vital lainnya,” jelasnya.

Regulasi Global Tegaskan Risiko

Badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA), telah memperketat regulasi rokok elektrik sejak 2022. FDA menegaskan tidak ada produk tembakau atau nikotin yang benar-benar aman, termasuk yang mengklaim menggunakan nikotin sintetis.

Kebijakan tersebut menekankan perlindungan terhadap remaja sebagai prioritas utama, mengingat pengguna vape saat ini didominasi pelajar dan mahasiswa.

Ancaman Generasi Mendatang

Desdiani mengingatkan, generasi muda yang saat ini aktif menggunakan vape berpotensi menghadapi gelombang masalah kesehatan satu dekade ke depan. Karena dampaknya tidak instan, banyak yang menganggap vape tidak berbahaya.

“Vape bukan alternatif aman dari rokok tembakau. Risiko kanker, penyakit paru kronis, gangguan jantung, hingga kerusakan otak bisa muncul ketika sudah terlambat,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya edukasi dan pengawasan ketat terhadap peredaran serta penggunaan vape, terutama di kalangan remaja, untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas di masa depan. (opy)