Trump Ultimatum Iran Jelang Pembicaraan Jenewa: “Jangan Coba Main Api”
Trump keluarkan ultimatum keras jelang pembicaraan nuklir Iran di Jenewa: kapal induk dikerahkan, Oman jadi mediator.

HALLONEWS.ID-Ketegangan kembali meningkat antara Amerika Serikat dan Iran menjelang pembicaraan nuklir terbaru di Jenewa, Selasa (17/2/2026). Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran agar tidak melewatkan kesempatan mencapai kesepakatan, atau siap menanggung konsekuensi berat.
“Saya rasa mereka tidak ingin menanggung akibatnya jika gagal mencapai kesepakatan,” ujar Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, Senin (16/2/2026) seraya menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka.
Putaran negosiasi kali ini dimediasi oleh Oman dan difokuskan untuk mencegah eskalasi baru, setelah beberapa bulan terakhir Washington menuding Iran meningkatkan kapasitas nuklirnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut posisi AS kini “lebih realistis” dibanding sebelumnya. “Diskusi di Muscat menunjukkan sinyal perubahan arah dari Washington,” ujarnya.
Sehari sebelum pertemuan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Menlu Oman Badr Albusaidi di Jenewa untuk menyelaraskan sikap terkait isu nuklir dan pencabutan sanksi. Teheran menegaskan, “diplomasi adalah jalan utama, tapi tanpa menyerahkan kedaulatan.”
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memulai latihan militer besar di Selat Hormuz sebagai unjuk kesiapan menghadapi potensi ancaman. Jalur strategis pengiriman minyak global itu telah lama menjadi simbol ketegangan antara kedua negara.
“Latihan ini merupakan langkah pencegahan untuk menjaga keamanan perairan nasional,” lapor televisi pemerintah Iran.
Menlu AS Marco Rubio menegaskan Washington tetap membuka jalur damai. “Presiden menginginkan hasil negosiasi, bukan perang,” katanya kepada wartawan.
Namun nada Trump tetap keras. Dalam wawancara akhir pekan lalu, ia mengatakan bahwa perubahan rezim di Iran akan menjadi “hasil terbaik yang bisa terjadi,” sembari mengirimkan kapal induk kedua ke Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln kini berlayar sekitar 700 kilometer dari pantai Iran, memperkuat sinyal tekanan militer.
Sementara itu, Wakil Menlu Iran Majid Takht-Ravanchi menyebut pihaknya siap kompromi terhadap cadangan uranium jika AS benar-benar mencabut sanksi ekonomi. “Jika kami melihat ketulusan dari Washington, jalan menuju kesepakatan terbuka,” katanya. (ren)
