Chandra Asri Capai 50% Pembangunan Pabrik CA-EDC di Cilegon, Target Operasi Kuartal I 2027

Chandra Asri capai 50% pembangunan pabrik CA-EDC di Cilegon, target operasi kuartal I 2027. Proyek ini dorong hilirisasi kimia nasional dan potensi devisa hingga Rp5 triliun per tahun.

Senin, 23 Februari 2026 - 8:30 WIB
Chandra Asri Capai 50% Pembangunan Pabrik CA-EDC di Cilegon, Target Operasi Kuartal I 2027
Penampakan pabrik Chandra Asri. Foto: Dok Yes Invest

HALLONEWS.ID – PT Chandra Asri Pacific Tbk melalui entitas anaknya PT Chandra Asri Alkali mengumumkan progres pembangunan Pabrik Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride di Cilegon, Banten telah mencapai 50 persen.

Proyek tersebut kini memasuki fase puncak konstruksi dan menjadi bagian dari strategi perseroan dalam memperkuat hilirisasi industri kimia nasional.

Sejumlah pekerjaan utama telah dirampungkan, antara lain penyelesaian struktur utama fasilitas, pemasangan jaringan perpipaan, serta persiapan integrasi sistem kelistrikan menuju tahap kesiapan operasional. Fasilitas berskala global ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal pertama 2027.

Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, menyampaikan bahwa pembangunan pabrik CA-EDC merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan industri kimia domestik.

Dengan peningkatan kapasitas produksi bahan kimia dasar di dalam negeri, proyek ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus membuka peluang ekspor, khususnya untuk produk Ethylene Dichloride.

Dari sisi ekonomi, proyek ini juga memberikan dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja. Selama tahap konstruksi, sekitar 3.000 tenaga kerja terlibat, dan setelah beroperasi penuh diproyeksikan menyerap sekitar 250 tenaga kerja baru.

Selain itu, perusahaan turut melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dalam rantai pasok serta dukungan operasional sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi lokal di sekitar wilayah operasional.

Pada tahap awal operasional, fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas produksi sebesar 827.000 ton soda kaustik dan 500.000 ton Ethylene Dichloride per tahun. Produksi soda kaustik diproyeksikan mampu menggantikan impor hingga 827 ribu ton per tahun dengan nilai sekitar USD 293 juta atau setara Rp4,9 triliun.

Sementara itu, seluruh produksi Ethylene Dichloride akan diarahkan untuk pasar ekspor dengan potensi devisa sekitar USD 300 juta atau setara Rp5 triliun per tahun.

Melalui pencapaian progres konstruksi ini, perseroan menegaskan komitmennya dalam memperkuat daya saing industri kimia nasional melalui peningkatan kapasitas produksi domestik, penguatan rantai pasok, serta penciptaan nilai tambah yang berkelanjutan.

Tentang Perusahaan

PT Chandra Asri Pacific Tbk merupakan perusahaan petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia dan satu-satunya yang mengoperasikan fasilitas Naphtha Cracker. Kompleks petrokimia perseroan berlokasi di Banten dengan produk utama meliputi olefin seperti etilen dan propilen, serta berbagai produk turunannya.

Segmen bisnis mencakup olefin, poliolefin, monomer stirena, butadiena, serta penyewaan tangki dan dermaga. Produk yang dihasilkan antara lain polietilen dan polipropilen yang dipasarkan dengan merek Asrene dan Trilene, serta berbagai turunan lainnya untuk kebutuhan industri.

Pergerakan Harga Saham

Saham perseroan diperdagangkan di level 6.725. Dalam satu minggu terakhir harga saham melemah 4,95 persen dan secara bulanan turun 3,93 persen.

Dalam tiga bulan terkoreksi 6,60 persen dan dalam satu tahun turun 15,94 persen. Namun dalam tiga tahun saham masih mencatatkan kenaikan 191,13 persen dan dalam lima tahun naik 188,50 persen.

Analisis Yes Invest

Dari sisi fundamental, kinerja laba bersih tahunan yang dianualisasi menunjukkan volatilitas dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2021 perseroan membukukan laba bersih sebesar 2,175 triliun rupiah, kemudian mencatatkan rugi bersih 2,225 triliun rupiah pada 2022 dan rugi 512 miliar rupiah pada 2023. Pada 2024 rugi bersih tercatat 1,096 triliun rupiah, sementara pada 2025 perseroan membukukan laba bersih sebesar 28,557 triliun rupiah.

Secara valuasi, saham diperdagangkan pada price to earnings ratio sebesar 20,42 kali.

Dari sisi teknikal, pergerakan jangka panjang masih berada dalam tren menurun. Dalam jangka pendek, saham mengalami pelemahan dan bergerak di bawah moving average 20 dan 60, sehingga potensi tekanan masih terbuka. Area support terdekat berada di kisaran 6.325, sementara resistance terdekat di area 7.400.(Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)