Empat Tahun Perang Rusia–Ukraina: Gencatan Senjata 2026 Masih Ilusi?

Empat tahun konflik Rusia–Ukraina pada 24 Februari 2026. Upaya gencatan senjata sebelum Juni dinilai sulit tercapai karena perbedaan mendasar.

Selasa, 24 Februari 2026 - 16:31 WIB
Empat Tahun Perang Rusia–Ukraina: Gencatan Senjata 2026 Masih Ilusi?
Tim penyelamat mengoordinasikan tindakan dari markas operasional bergerak setelah serangan Rusia di desa Sofiivska Borshchahivka, wilayah Kyiv, Ukraina, Sabtu (22/2/2026). Foto: CGTN untuk Hallonews.

HALLONEWS.ID-Tepat pada Selasa, 24 Februari 2026, konflik antara Rusia dan Ukraina memasuki tahun keempat sejak pertama kali meletus pada 24 Februari 2022.

Beberapa hari sebelum peringatan tersebut, yakni pada Sabtu–Minggu (21–22/2/2026), putaran ketiga pembicaraan trilateral tahun ini antara Ukraina, Amerika Serikat, dan Rusia berakhir tanpa terobosan pada isu-isu utama.

Di tengah laporan bahwa Washington berharap mengamankan gencatan senjata sebelum Juni 2026, muncul kembali pertanyaan: apakah paruh pertama tahun ini menjadi momentum terakhir menuju de-eskalasi, atau justru membuka babak kebuntuan yang lebih panjang?

Sejumlah analis menyebut periode Februari hingga Juni 2026 sebagai jendela diplomasi yang semakin menyempit.

Wang Jin, Direktur Pusat Studi Strategis Universitas Northwest, mengatakan bahwa target waktu Amerika Serikat lebih banyak dipengaruhi dinamika politik domestik.

“Target yang ditetapkan Amerika Serikat berkaitan dengan kalender politik dalam negerinya. Namun, perbedaan Rusia dan Ukraina pada isu inti masih sangat besar,” ujarnya dalam wawancara yang dipublikasikan menjelang 24 Februari 2026.

Cui Zheng dari Universitas Liaoning menilai peluang tersebut rapuh. “Meskipun Washington ingin melihat hasil mediasi sebelum musim panas, realitas di medan perang dan politik tidak mendukung tercapainya gencatan senjata permanen dalam waktu dekat,” katanya.

Hambatan Struktural Masih Menganga

Isu teritorial tetap menjadi titik krusial. Rusia bersikeras agar wilayah yang telah dikuasainya, termasuk Krimea dan empat wilayah timur serta selatan,diakui secara resmi. Moskow juga menolak ekspansi North Atlantic Treaty Organization ke Ukraina.

Sebaliknya, Kyiv tetap mempertahankan klaim kedaulatan penuh dan menuntut jaminan keamanan dari negara-negara Barat.

Para ahli menilai bahwa tanpa pendekatan bertahap—dimulai dari gencatan senjata sementara—penyelesaian komprehensif sulit dicapai dalam jangka pendek.

Pergeseran Sikap Washington

Sejak awal 2026, pendekatan Amerika Serikat dinilai lebih pragmatis. Washington disebut tidak lagi semata-mata fokus pada dukungan militer maksimal bagi Ukraina, tetapi juga mendorong jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya mengurangi beban geopolitik jangka panjang sekaligus menstabilkan situasi sebelum memasuki siklus politik domestik berikutnya.

Di sisi lain, negara-negara Eropa tetap menegaskan dukungan terhadap Ukraina. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada beberapa kesempatan di 2025–2026 menegaskan komitmen Uni Eropa terhadap kedaulatan Kyiv.

Namun, para analis menilai ruang gerak Eropa terbatas, terutama karena negosiasi kunci lebih banyak dipengaruhi Washington dan Moskow.

Memasuki tahun kelima konflik pada Februari 2026, optimisme terhadap perdamaian komprehensif masih tertahan oleh perbedaan mendasar.

Meski peluang de-eskalasi sementara tetap terbuka dalam beberapa bulan ke depan, kesenjangan struktural terkait wilayah, keamanan, dan legitimasi politik membuat jalan menuju penyelesaian permanen masih terjal.

Apakah Juni 2026 benar-benar menjadi tenggat penting, atau hanya penanda lain dalam konflik yang berkepanjangan, akan sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak menjembatani perbedaan yang selama empat tahun terakhir belum menemukan titik temu. (ren)