Bursa Saham Seoul Rontok Hampir 6 Persen, Harga Minyak di atas US$100 Picu Kepanikan Pasar
Pasar saham Korea Selatan terguncang setelah harga minyak dunia menembus US$100 per barel akibat konflik AS–Israel melawan Iran. Indeks KOSPI anjlok hampir 6 persen, sementara nilai tukar won melemah ke level terendah dalam hampir dua dekade.

HALLONEWS.ID – Pasar saham Korea Selatan mengalami tekanan hebat pada Senin (9/3/2026) di tengah gejolak pasar global yang dipicu lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
Indeks utama KOSPI tercatat merosot 5,96 persen dan ditutup pada level 5.251,87 poin. Sementara itu, indeks teknologi KOSDAQ juga turun 4,54 persen menjadi 1.102,28 poin.
Penurunan tajam ini terjadi setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu lonjakan harga energi global.
Harga Minyak Memicu Gejolak Pasar
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam dan melampaui US$100 per barel, memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global.
Minyak mentah Dubai bahkan tercatat mencapai sekitar US$100,42 per barel, melonjak signifikan dibandingkan awal tahun yang berada di kisaran US$60 per barel.
Lonjakan harga energi tersebut membuat investor global melakukan aksi jual besar-besaran pada saham-saham unggulan.
Mekanisme Penghentian Perdagangan Aktif
Seperti dilansir The Korea Times, KOSPI sempat dibuka turun 5,72 persen ke level 5.265,37 poin, bahkan sempat merosot hingga 8,75 persen pada satu titik perdagangan.
Penurunan tajam ini memicu aktivasi mekanisme sidecar serta circuit breaker, yang merupakan sistem penghentian perdagangan sementara untuk meredam kepanikan pasar.
Sistem sidecar aktif ketika kontrak berjangka KOSPI 200 turun lebih dari 5 persen, sementara circuit breaker diberlakukan ketika indeks utama turun lebih dari 8 persen dalam satu sesi perdagangan.
Saham Raksasa Teknologi Ikut Terseret
Sejumlah saham unggulan Korea Selatan mencatatkan penurunan tajam pada perdagangan hari itu.
Beberapa di antaranya adalah Samsung Electronics turun 7,81 persen, SK Hynix merosot 9,52 persen, dan Hyundai Motor melemah 8,32 persen.
Di bursa KOSDAQ, saham perusahaan baterai EcoPro turun 3,65 persen, sementara perusahaan bioteknologi Alteogen melemah 1,74 persen.
Investor asing dan institusi menjadi pihak yang paling banyak melakukan aksi jual, melepas saham senilai lebih dari 4,6 triliun won.
Won Korea Terpuruk
Gejolak pasar juga mengguncang nilai tukar won Korea terhadap dolar AS.
Mata uang Korea Selatan ditutup pada 1.495,5 won per dolar, yang merupakan level terlemah dalam hampir 17 tahun.
Nilai tersebut mendekati titik terendah sejak 12 Maret 2009, saat krisis keuangan global mengguncang ekonomi dunia.
Risiko terhadap Ekonomi Global
Peneliti dari Korea Investment & Securities, Moon Da-woon, mengatakan konflik di Timur Tengah dapat berdampak luas terhadap perekonomian global.
“Perang di Iran dapat dengan cepat melemahkan faktor-faktor utama yang menopang ekspektasi pertumbuhan ekonomi dan pasar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa jika konflik berlangsung lebih lama, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh pasar keuangan tetapi juga sektor ekonomi riil.
“Jika konflik Iran berlanjut lebih lama, hal itu dapat merugikan tidak hanya sentimen pasar tetapi juga ekonomi riil,” katanya. (ren)
