Profil Ali Larijani: Tokoh Kunci Iran yang Tewas di Tengah Serangan Israel
Ali Larijani, pejabat kunci yang disebut mengendalikan Iran di tengah perang, dikonfirmasi tewas dalam serangan Israel. Sosoknya selama ini berada di balik strategi negara.

HALLONEWS.ID – Kematian Ali Larijani bukan sekadar kehilangan satu pejabat tinggi. Ia adalah figur kunci yang selama ini diyakini memegang kendali Iran di tengah krisis besar, setelah wafatnya pemimpin tertinggi Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Israel menyatakan telah membunuh Larijani dalam serangan udara pada Selasa (17/3/2026). Tak lama berselang, Iran pun mengonfirmasi kematian tokoh strategis tersebut.
Pada saat yang sama, militer Israel juga mengklaim telah menewaskan Gholam Reza Soleimani, komandan pasukan paramiliter Basij yang selama ini menjadi tulang punggung keamanan internal Iran. Teheran juga membenarkan kabar tersebut.
Figur Bayangan yang Mengendalikan Negara
Di tengah kekosongan kepemimpinan pasca kematian Khamenei, Larijani disebut-sebut sebagai sosok yang menjalankan roda pemerintahan secara de facto.
Sementara pengganti Khamenei, Mojtaba Khamenei, belum muncul ke publik dan diduga terluka, Larijani justru tampil sebagai figur paling berpengaruh dalam menentukan arah strategi Iran, baik di dalam negeri maupun dalam konflik regional.
Namun, pembunuhan para elite ini ternyata tidak langsung melemahkan Iran. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) tetap melanjutkan serangan rudal ke Israel dan negara-negara Teluk.
Bahkan, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia—yang langsung mengguncang harga energi global.
Strategi Israel: Guncang dari Dalam
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan serangan terhadap para elite Iran bertujuan melemahkan rezim dari dalam.
Ia berharap tekanan militer dapat membuka peluang bagi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahnya sendiri.
Namun hingga kini, belum terlihat gelombang protes besar di dalam negeri Iran. Warga justru lebih fokus menyelamatkan diri dari serangan yang terus berlangsung.
Lahir dari Dinasti Politik Berpengaruh
Larijani bukan sosok biasa. Ia berasal dari salah satu keluarga politik paling berpengaruh di Iran, sering disandingkan dengan dinasti politik di negara lain.
Saudaranya, Sadeq Larijani, pernah menjabat sebagai kepala peradilan Iran, sementara Mohammad Javad Larijani dikenal sebagai diplomat senior dan penasihat dekat Khamenei.
Karier Ali Larijani sendiri sangat panjang. Ia pernah menjabat Menteri Kebudayaan pada 1990-an dengan kebijakan sensor ketat, lalu menjadi Ketua Parlemen Iran selama lebih dari satu dekade (2008–2020), hingga akhirnya memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Selain politik, ia juga dikenal sebagai intelektual yang menulis sejumlah buku filsafat, termasuk karya yang membahas pemikiran Immanuel Kant.
Arsitek Strategi Nuklir dan Diplomasi
Menjelang perang, Larijani memegang peran penting dalam strategi nuklir Iran. Ia dipercaya menjadi penasihat utama dalam menghadapi tekanan dari pemerintahan Donald Trump.
Bahkan, hanya dua minggu sebelum konflik meletus, ia sempat melakukan perjalanan diplomatik ke Oman untuk bertemu mediator internasional.
Namun, seperti banyak elite Iran lainnya, Larijani juga berada di bawah sanksi berat Amerika Serikat dan dikaitkan dengan penindasan keras terhadap gelombang protes dalam negeri.
Sosok Keras yang Tak Gentar Ancaman
Beberapa hari sebelum kematiannya, Larijani sempat merespons ancaman Trump terkait Selat Hormuz dengan pernyataan keras.
“Bangsa Iran tidak takut ancaman kosong. Bahkan yang lebih besar dari Anda pun tidak mampu melenyapkan Iran,” tulisnya.
Pernyataan itu kini menjadi salah satu pesan terakhir dari sosok yang selama ini dianggap sebagai “otak di balik layar” kekuasaan Iran.
Soleimani dan Mesin Represi Iran
Sementara itu, kematian Gholam Reza Soleimani juga menjadi pukulan besar. Ia memimpin Basij, pasukan paramiliter yang memiliki jaringan luas, mulai dari milisi hingga intelijen sipil.
Basij dikenal sebagai garda terdepan dalam menekan demonstrasi. Dalam berbagai gelombang protes, kelompok ini kerap dituding melakukan kekerasan terhadap warga sipil.
Soleimani sendiri telah dikenai sanksi internasional sejak lama atas keterlibatannya dalam penindasan tersebut.
Kematian Ali Larijani menandai babak baru konflik Timur Tengah. Bukan hanya kehilangan figur penting, tetapi juga membuka ketidakpastian besar tentang siapa yang kini benar-benar mengendalikan Iran, dan ke mana arah perang ini akan bergerak selanjutnya. (ren)
