Untuk Pertama Kalinya, Mojtaba Khamenei Angkat Bicara Usai Kepala Intelijen IRGC Tewas
Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei akhirnya muncul dan menyampaikan pernyataan publik setelah tewasnya kepala intelijen IRGC dalam serangan Israel.

HALLONEWS.ID – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, untuk pertama kalinya menyampaikan pernyataan publik sejak menjabat, di tengah meningkatnya eskalasi konflik dengan Israel.
Dalam unggahan tertulis di media sosial yang dikutip dari Sky News, Selasa (7/4/2026) Mojtaba Khamenei menyampaikan belasungkawa atas tewasnya Kepala Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Seyyed Majid Khademi.
Khademi dilaporkan tewas dalam serangan militer Israel di Teheran pada Minggu, 5 April 2026.
Dalam pernyataannya, Khamenei menyebut Khademi sebagai bagian dari “barisan pejuang dan prajurit yang teguh” yang telah mengorbankan nyawanya demi negara.
Pernyataan ini menjadi sorotan global karena Mojtaba Khamenei dikenal sangat jarang tampil di ruang publik sejak menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Sebelumnya, militer Israel melalui Israel Defense Forces (IDF) mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan Khademi dalam operasi militer di Teheran.
Dalam pernyataan resminya, pihak IDF menyebut Khademi sebagai salah satu komandan paling senior di IRGC dengan pengalaman militer dan intelijen yang luas.
“Khademi adalah salah satu komandan paling senior di IRGC dan telah mengumpulkan pengalaman militer dan keamanan yang luas selama bertahun-tahun,” demikian pernyataan militer Israel.
Serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian operasi militer Israel yang menargetkan struktur kepemimpinan Iran di tengah konflik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa serangan-serangan tersebut telah menewaskan puluhan pejabat tinggi Iran, termasuk figur-figur penting dalam struktur militer dan intelijen negara tersebut.
Kematian Khademi dinilai sebagai pukulan signifikan terhadap struktur komando IRGC dan berpotensi memperburuk eskalasi konflik antara Iran dan Israel.
Situasi ini semakin memperkeruh ketegangan geopolitik di kawasan, yang sebelumnya telah memanas akibat konflik terbuka antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, serta meningkatkan risiko meluasnya konflik di Timur Tengah. (ren)
