Kebijakan Trump Picu Tekanan Ekonomi, Survei Tunjukkan Kepuasan Publik Anjlok
Survei terbaru pada Selasa (22/4/2026) menunjukkan kepuasan publik terhadap Donald Trump turun tajam di tengah tekanan ekonomi dan konflik Iran.

HALLONEWS.ID – Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tercatat mengalami penurunan signifikan di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan eskalasi konflik dengan Iran.
Berdasarkan survei Associated Press–NORC Center for Public Affairs Research yang dirilis pada Rabu (22/4/2026), tingkat persetujuan terhadap Trump turun menjadi 33 persen, atau merosot dibandingkan periode sebelumnya. Temuan serupa juga terlihat dalam jajak pendapat Reuters–Ipsos yang menunjukkan angka persetujuan hanya berada di kisaran 36 persen.
Penurunan ini dikaitkan dengan kebijakan ekonomi serta langkah geopolitik yang dinilai belum mampu meredam tekanan terhadap masyarakat, terutama terkait konflik dengan Iran dan kebijakan tarif perdagangan.
Mayoritas responden dalam survei tersebut menilai kondisi negara bergerak ke arah yang kurang baik. Tingginya biaya hidup serta lambatnya pertumbuhan pendapatan menjadi faktor utama yang memicu ketidakpuasan publik.
Dukungan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah juga mengalami penurunan. Hanya sebagian kecil responden yang menyatakan percaya terhadap kemampuan pemerintah dalam menangani krisis biaya hidup. Bahkan, sekitar 75 persen responden menilai kondisi ekonomi saat ini berada dalam kategori buruk.
Tekanan ekonomi semakin terasa akibat lonjakan harga energi yang dipicu ketegangan di Timur Tengah. Kenaikan harga bahan bakar berdampak luas ke berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga kebutuhan pokok.
Lembaga keuangan Goldman Sachs dalam analisisnya yang dirilis pada Rabu (22/4/2026) memperkirakan lonjakan harga energi telah menggerus pendapatan rumah tangga Amerika secara signifikan. Dampak tersebut disebut lebih berat dirasakan oleh kelompok berpenghasilan rendah.
Selain itu, tingkat kepercayaan konsumen juga menunjukkan penurunan tajam. Indeks sentimen konsumen tercatat berada di titik terendah dalam beberapa dekade, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Para ekonom memperingatkan bahwa penurunan konsumsi masyarakat berpotensi memicu perlambatan ekonomi lebih luas, termasuk penurunan pendapatan hingga potensi pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor.
Di sisi lain, kondisi ini justru memberikan keuntungan bagi industri pertahanan. Sejumlah perusahaan seperti RTX Corporation, Northrop Grumman, dan GE Aerospace mencatat pertumbuhan kinerja di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Namun, keuntungan tersebut tidak sejalan dengan kondisi masyarakat secara umum. Kenaikan biaya logistik, tarif pengiriman, hingga harga tiket penerbangan justru semakin membebani konsumen.
Kondisi ini memperlihatkan kesenjangan yang semakin lebar antara kinerja sektor tertentu dengan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat luas.
Dengan ketegangan geopolitik yang belum mereda serta tekanan ekonomi yang terus meningkat, tantangan bagi pemerintahan Trump diperkirakan akan semakin kompleks ke depan. (ren)
