Jejak Sejarah dan Nuansa Mistis di Istana Batu Tulis, dari Era Kolonial hingga Bung Karno
Istana Batu Tulis Bogor menyimpan sejarah panjang sejak era kolonial hingga masa Soekarno, lengkap dengan kisah politik dan nuansa mistis

HALLONEWS.ID — Istana Batu Tulis merupakan salah satu situs bersejarah penting di Indonesia yang menyimpan jejak perjalanan panjang, mulai dari masa kolonial hingga era kepemimpinan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Kompleks yang memiliki nama asli Hing Puri Bima Cakti ini berdiri di atas lahan seluas sekitar 3,8 hektare dan dikelilingi tembok putih serta permukiman warga.
Selain dikenal sebagai tempat peristirahatan presiden, kawasan ini juga kerap menjadi lokasi pertemuan tokoh-tokoh penting nasional.
Sejarah Istana Batu Tulis berawal dari awal abad ke-18. Setelah letusan Gunung Salak pada 1699, pemerintah kolonial Hindia Belanda menugaskan Abraham van Riebeeck untuk meninjau kondisi wilayah Buitenzorg (kini Bogor).
Dalam laporannya, ia menemukan aliran Sungai Ciliwung tersumbat material letusan. Setelah dilakukan pembersihan, ia kemudian membangun tempat peristirahatan di kawasan tersebut untuk memantau aktivitas gunung.
Bangunan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya kompleks Istana Batu Tulis.
Lokasinya berada tidak jauh dari Prasasti Batu Tulis, peninggalan bersejarah dari Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Memasuki era kemerdekaan, pada 1960-an, Soekarno membeli lahan di sekitar kawasan tersebut. Ia kemudian membangun rumah peristirahatan dengan desain yang dirancang oleh arsitek RM Soedarsono.
Gaya arsitekturnya memiliki kemiripan dengan Istana Tampak Siring di Bali, yang juga dirancang oleh arsitek yang sama.
Istana ini kerap digunakan Soekarno untuk beristirahat sekaligus berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
“Istana Batutulis kerap menjadi tempat istirahat Bung Karno. Sang proklamator juga kerap bercengkerama dengan warga sekitar,” kata Jefry Ricardo, salah satu tokoh Sunda.
Perjalanan Istana Batu Tulis tidak terlepas dari dinamika politik Indonesia, termasuk pasca Gerakan 30 September 1965 yang berdampak pada berakhirnya kekuasaan Soekarno.
Mandat kepresidenannya dicabut oleh MPRS pada 1967. Setelah wafat pada 21 Juni 1970 di RSPAD Gatot Soebroto, Soekarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, meskipun semasa hidup ia sempat mengungkapkan keinginan dimakamkan di wilayah pegunungan yang tenang.
Gejolak politik setelah peristiwa Gerekan 30 September 1965, membuat citra Soekarno meredup. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) lantas mencabut mandat kepada Bung Karno sebagai presiden pada 7 Maret 1967.
Dalam buku otobiografi “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat” yang ditulis Cindy Adams disebutkan, Soekarno berharap dia dimakamkan di wilayah pegununungan saat wafat.
Meski tidak menyebutkan secara khusus soal Istana Batu Tulis, dalam buku itu Soekarno berharap ingin dimakamkan di tempat yang sederhana.
“Saya ingin berbaring di antara perbukitan dan ketenangan. Hanya keindahan dari negara yang saya cintai dan kesederhanaan sebagaimana saya hadir. Saya berharap rumah terakhir saya dingin, pegunungan, daerah Priangan yang subur di mana saya bertemu pertama kali dengan petani Marhaen,” kata Soekarno dalam buku itu. Soekarno wafat pada 21 Juni 1970 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.
Pada masa Orde Baru, pengelolaan Istana Batu Tulis diambil alih pemerintah, sebelum akhirnya dikembalikan kepada keluarga Soekarno pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid.
Pemerintah Orde Baru memutuskan untuk memakamkan Soekarno di kota kelahirannya di Blitar, Jawa Timur melalui Keppres RI Nomor 44 Tahun 1970.
Selain nilai sejarah, Istana Batu Tulis juga dikenal memiliki nuansa mistis yang kuat. Area dalam istana menyimpan berbagai benda dan suasana yang kental dengan tradisi.
Di depan kamar Soekarno, misalnya, terdapat sesajen yang diletakkan sebagai bentuk penghormatan. Aroma bunga, wangi dupa dan suasana ruangan yang tenang menambah kesan sakral.
Wartawan media ini sempat dibawa masuk dan diperkenankan berkeliling area oleh seorang polisi yang berjaga di Istana Batutulis.
Bahkan wartawan media ini, diperkenankan untuk sejenak duduk dibangku tepat didepan kamar Bung Karno. Depan kamar Bung Karno terdapat sesajen dengan rokok.
Sebatang rokok yang disajikan bersama sesajen lain, sempat diisap wartawan media ini. Aroma mistik sangat terasa.
Apalagi didekat jendela kamar Bung Karno, terdapat bunga teratai yang mengeluarkan aroma kembang yang makin menambah suasana mistik.
Untuk menuju kamar tempat sang proklamator tidur, wartawan media ini melewati dapur, lalu turun ke bawah melewati terowongan dan keluar ditaman belakang yang tak jauh dari kamar istrihat Bung Karno.
Menurut penjaga setempat, kamar pribadi Soekarno tidak dibuka untuk umum dan hanya dapat diakses oleh anggota keluarga tertentu, termasuk Megawati Soekarnoputri.
Tepat didepan kamar, sang polisi yang menjadi pemandu bercerita, jika kamar bung Karno hanya boleh dibuka oleh satu orang.
“Hanya ibu Megawati yang boleh buka kamar bung Karno,” kata polisi yang memandu wartawan media ini.
Usai berkeliling sekitar satu jam dan kembali ke loby utama yang berjejer alat musik tradisional, wartawan media ini lalu pamit dan meninggalkan istana Batutulis yang penuh mistik dan cerita sejarah ini.
Kini, Istana Batu Tulis tidak hanya menjadi simbol sejarah perjalanan bangsa, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan spiritual yang masih terasa hingga saat ini.
Keberadaannya menjadi pengingat akan perjalanan panjang Indonesia, dari masa kolonial, era kemerdekaan, hingga dinamika politik modern yang membentuk bangsa ini. (opy)
