Nelayan Pandeglang Hilang Usai Tabrakan dengan Kapal Kargo di Perairan Kalianda, Operasi SAR Resmi Dihentikan

Operasi pencarian nelayan asal Pandeglang yang hilang usai kapal KM Bima Suci diduga tertabrak kapal kargo di perairan Kalianda, Lampung Selatan, resmi dihentikan Tim SAR gabungan setelah tujuh hari pencarian tanpa hasil.

Sabtu, 16 Mei 2026 - 0:00 WIB
Nelayan Pandeglang Hilang Usai Tabrakan dengan Kapal Kargo di Perairan Kalianda, Operasi SAR Resmi Dihentikan
Tim SAR gabungan melakukan penyisiran di perairan Kalianda, Lampung Selatan, dalam upaya mencari nelayan asal Pandeglang yang hilang usai insiden tabrakan kapal di Selat Sunda, foto Dokumentasi Basarnas for HalloNews

HALLONEWS.ID – Tim SAR gabungan resmi menghentikan operasi pencarian terhadap Ajum (52), nelayan asal Kabupaten Pandeglang, Banten, yang hilang setelah kapal nelayan KM Bima Suci diduga tertabrak kapal kargo di perairan Kalianda, Lampung Selatan.

Penghentian operasi dilakukan setelah proses pencarian selama tujuh hari tidak membuahkan hasil. Tim gabungan sebelumnya telah melakukan penyisiran laut secara maksimal di sekitar lokasi kejadian.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Selasa dini hari, 5 Mei 2026, sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu, KM Bima Suci yang tengah melaut di kawasan Selat Sunda mengalami insiden tabrakan dengan kapal berukuran besar di tengah kondisi laut gelap.

Benturan keras menyebabkan kapal nelayan kayu tersebut rusak parah. Dari empat orang yang berada di atas kapal, tiga nelayan berhasil selamat, sementara Ajum dilaporkan hilang dan hingga kini belum ditemukan.

Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, mengatakan penghentian pencarian dilakukan berdasarkan prosedur operasi standar setelah upaya pencarian intensif dilakukan selama sepekan.

“Operasi SAR terhadap nelayan yang hilang resmi dihentikan setelah pencarian dilakukan secara maksimal selama tujuh hari,” ujar Rezie di Kalianda, Jumat (15/5/2026).

Selama proses pencarian, tim SAR gabungan melibatkan personel Basarnas, TNI AL, Polairud, hingga BPBD. Mereka menghadapi berbagai kendala di lapangan, mulai dari cuaca yang berubah cepat hingga gelombang tinggi yang menghambat penyisiran.

Meski operasi resmi ditutup, pihak SAR menyatakan tetap melakukan pemantauan dan koordinasi dengan masyarakat pesisir apabila muncul informasi baru terkait korban.

“Kami masih bersiaga dan terus berkoordinasi dengan nelayan maupun warga sekitar apabila ditemukan tanda-tanda keberadaan korban,” tutupnya. (esa)