PHRI Kota Bogor Khawatir Kenaikan Harga Pangan Picu Gelombang PHK di Industri Hotel dan Restoran

PHRI Kota Bogor mengeluhkan kenaikan harga bahan pangan yang membebani operasional hotel dan restoran. Kondisi ini dikhawatirkan berujung pada keputusan PHK.

Selasa, 16 Juni 2026 - 0:28 WIB
PHRI Kota Bogor Khawatir Kenaikan Harga Pangan Picu Gelombang PHK di Industri Hotel dan Restoran
Ketua PHRI Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay. Foto: Hallonews/Humas PHRI Kota Bogor

HALLONEWS.ID – Kenaikan harga sejumlah bahan pangan pokok mulai memberikan tekanan serius terhadap industri perhotelan dan restoran.

Pelaku usaha mengaku semakin kesulitan menyeimbangkan biaya operasional di tengah tingginya harga bahan baku yang terus merangkak naik.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay, mengatakan lonjakan harga sejumlah komoditas seperti beras, minyak goreng, tepung terigu, dan gula pasir telah berdampak langsung terhadap operasional usaha di sektor perhotelan dan restoran.

Menurutnya, hotel tidak hanya menyediakan layanan penginapan, tetapi juga memiliki fasilitas restoran yang membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar setiap hari.

“Kami menerima laporan dari bagian pembelian bahwa harga berbagai kebutuhan pokok sudah mengalami kenaikan sejak beberapa bulan terakhir. Beras, minyak goreng, tepung terigu, hingga gula pasir terus mengalami penyesuaian harga dan itu menjadi beban tambahan bagi industri,” ujar Yuno kepada wartawan dikutip Senin (15/6/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan pangan tersebut membuat pelaku usaha berada dalam posisi yang sulit.

Di satu sisi biaya produksi meningkat, namun di sisi lain pelaku usaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga produk maupun layanan kepada konsumen.

“Industri hotel dan restoran tidak bisa langsung menaikkan harga. Kondisi transaksi saat ini juga belum sepenuhnya pulih. Jika harga dinaikkan, dikhawatirkan justru akan mengurangi minat konsumen. Akibatnya, kami semakin terjepit,” katanya.

Yuno menduga tingginya permintaan bahan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut berkontribusi terhadap meningkatnya kebutuhan sejumlah komoditas pokok di pasar.

Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap harga berbagai bahan pangan yang menjadi kebutuhan utama industri kuliner dan perhotelan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa apabila situasi ini terus berlangsung tanpa adanya solusi, dampaknya bisa meluas hingga pada sektor ketenagakerjaan.

Menurutnya, ketika biaya operasional terus meningkat sementara pendapatan tidak bertambah secara signifikan, perusahaan akan menghadapi pilihan sulit untuk menjaga keberlangsungan usaha.

“Yang paling kami khawatirkan adalah potensi pengurangan tenaga kerja. Ketika pemasukan dan pengeluaran tidak seimbang, langkah yang sering diambil perusahaan adalah mengurangi jumlah karyawan atau tidak memperpanjang kontrak kerja,” ungkapnya.

PHRI Kota Bogor pun berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga pangan dan memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok agar sektor perhotelan dan restoran tetap dapat bertahan di tengah tantangan ekonomi saat ini.

Yuno menambahkan, kondisi tersebut mengingatkan pada situasi yang pernah terjadi saat pandemi COVID-19, ketika banyak pelaku usaha terpaksa melakukan efisiensi dan pengurangan tenaga kerja demi mempertahankan operasional bisnis.

“Jangan sampai kita kembali menghadapi gelombang PHK seperti yang pernah terjadi pada masa pandemi. Ini yang menjadi perhatian dan kekhawatiran kami saat ini,” pungkasnya. (opy)