Fenomena Aneh Musim Kemarau, BMKG: Hujan Masih Terjadi hingga Pekan Ini

BMKG memprediksi hujan masih mengguyur wilayah Indonesia hingga 18 Juni 2026 meski musim kemarau, warga diimbau waspada terhadap cuaca yang masih berubah-ubah.

Selasa, 16 Juni 2026 - 9:30 WIB
Fenomena Aneh Musim Kemarau, BMKG: Hujan Masih Terjadi hingga Pekan Ini
Prediksi hujan bulan Juni 2026. Foto: BMKG for Hallonews

HALLONEWS.ID – Meski musim kemarau, hujan diperkirakan masih mengguyur wilayah di Indonesia hingga 18 Juni 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat tetap waspada karena cuaca masih berpotensi berubah secara signifikan.

Hujan diprakirakan terjadi di sejumlah provinsi, mulai dari Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Timur, hingga berbagai wilayah di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa transisi menuju musim kemarau belum berlangsung merata di seluruh Indonesia,” tulis BMKG dalam keterangannya, dikutip Hallonews, Selasa (16/6/2026).

BMKG menjelaskan, masih tingginya potensi hujan dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Kelvin dan Rossby Ekuatorial yang melintas di sejumlah wilayah.

Selain itu, keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatra Utara dan potensi pembentukan sistem serupa di Kalimantan Tengah turut memicu terbentuknya awan hujan.

Kondisi tersebut menciptakan pola perlambatan angin dan pertemuan massa udara yang meningkatkan peluang pertumbuhan awan konvektif di berbagai daerah, terutama di sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Tak hanya itu, atmosfer yang masih labil serta pengaruh fenomena Madden–Julian Oscillation (MJO) membuat peluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tetap signifikan, khususnya di wilayah Indonesia bagian utara.

Di sisi lain, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau memang mulai berlangsung di sebagian besar wilayah selatan Indonesia.

Salah satu cirinya adalah berkurangnya curah hujan dan munculnya fenomena suhu udara dingin pada malam hingga pagi hari atau yang dikenal masyarakat sebagai bediding, terutama di kawasan dataran tinggi.

Bahkan, suhu minimum sempat tercatat mencapai 9,4 derajat Celsius di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sementara kawasan Tambi, Wonosobo, mencatat suhu 16,9 derajat Celsius.

Fenomena ini dipengaruhi oleh Monsun Australia yang membawa udara kering dan dingin sehingga langit cenderung cerah pada malam hari. Menariknya, kontras cuaca juga terjadi di sejumlah wilayah lain.

Dalam beberapa hari terakhir, BMKG mencatat suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Banten, Jakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur.

Hingga pertengahan Juni 2026, sekitar 28,6 persen wilayah Indonesia memasuki musim kemarau. Persentase tersebut terus bertambah, dengan kecenderungan curah hujan berada di bawah normal akibat pengaruh fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO).

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan perkembangan cuaca harian.
Di wilayah yang telah memasuki musim kemarau, warga disarankan menjaga kecukupan cairan tubuh, menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan.

Selain itu, menyiapkan pakaian hangat ketika berada di dataran tinggi atau beraktivitas pada malam hingga dini hari.

Sementara itu, di daerah yang masih berpotensi diguyur hujan, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap sambaran petir dan angin kencang dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang berisiko roboh. (dul)