Guru Besar IPB: Jasa Lingkungan Hutan Kunci Atasi Krisis Iklim

Guru Besar IPB Prof Siti Badriyah Rushayati menegaskan jasa lingkungan hutan berperan penting dalam mengatasi perubahan iklim, menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi pencemaran, dan menekan urban heat island.

Rabu, 24 Juni 2026 - 20:29 WIB
Guru Besar IPB: Jasa Lingkungan Hutan Kunci Atasi Krisis Iklim
Guru Besar IPB Prof Siti Badriyah Rushayati. Foto Hallonews/Yopy

HALLONEWS.ID – Krisis planet ganda atau triple planetary crisis yang mencakup perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan menjadi tantangan global yang semakin nyata.

Salah satu faktor yang memperparah kondisi tersebut adalah perubahan tutupan lahan dari kawasan bervegetasi, khususnya vegetasi pohon, menjadi area nonvegetasi, lahan terbangun, dan tanah terbuka.

Guru Besar Tetap Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Siti Badriyah Rushayati, M.Si., mengatakan perubahan tutupan lahan yang tidak terkendali menyebabkan menurunnya fungsi ekologis lingkungan serta meningkatkan suhu udara di berbagai wilayah perkotaan.

“Perubahan tutupan lahan yang tidak terkendali telah meningkatkan suhu udara dan memicu fenomena urban heat island (UHI) di berbagai kota. Kawasan UHI kini semakin meluas dan menyatu dengan wilayah perkotaan di sekitarnya sehingga berpotensi menurunkan kualitas lingkungan dan kenyamanan hidup masyarakat,” ujar Prof Siti, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, fenomena urban heat island merupakan salah satu dampak nyata dari perubahan tutupan lahan. Kondisi ini terjadi ketika kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya akibat berkurangnya vegetasi dan meningkatnya area terbangun.

Sebagai contoh, perubahan tutupan lahan di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada periode 2018–2024 telah menyebabkan peningkatan indeks urban heat island (UHII) dari 0,05 menjadi 0,08.

Ia menjelaskan, perubahan tutupan lahan pada tahap awal pembangunan memang sulit dihindari karena kebutuhan pembangunan infrastruktur.

Namun, peningkatan urban heat island harus tetap dikendalikan agar tidak menjadi persoalan lingkungan di masa mendatang.

“Jangan sampai di kemudian hari menciptakan masalah urban heat island baru yang justru menghambat terwujudnya IKN sebagai kota berkelanjutan yang mengusung konsep Forest City, Sponge City, dan Smart City,” ungkapnya.

Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, Prof Siti menilai jasa lingkungan hutan memiliki peran strategis.

Vegetasi hutan mampu menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis dan menyimpannya dalam bentuk biomassa sehingga membantu mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Ia menyebut sejumlah kawasan hutan memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang cukup besar, di antaranya Hutan Kota Ciracas dengan simpanan karbon mencapai 63,63 ton per hektare, Hutan Kota Waduk Sunter 119,3 ton per hektare.

Kemudian Hutan Kota Munjul 131,98 ton per hektare, Tahura Juanda antara 48,62 hingga 232,84 ton per hektare, serta kawasan revegetasi koridor Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) sebesar 409,29 ton per hektare.

Menurutnya, kemampuan hutan dalam menyimpan karbon turut berkontribusi menurunkan suhu udara dan mengurangi dampak urban heat island.

Selain memengaruhi iklim, perubahan tutupan lahan juga menyebabkan fragmentasi habitat yang berdampak pada penurunan keanekaragaman hayati, baik pada tingkat genetik, spesies, maupun ekosistem.

Hilangnya vegetasi alami dapat mengganggu habitat satwa dan tumbuhan, menurunkan konektivitas lanskap, serta melemahkan fungsi ekologis ekosistem.

Dalam kondisi tersebut, jasa lingkungan hutan berperan penting dalam meningkatkan ketahanan ekosistem. Ekosistem hutan yang terjaga dengan baik memiliki kemampuan adaptasi lebih tinggi terhadap berbagai gangguan lingkungan dan dampak perubahan iklim.

Prof Siti juga menyoroti dampak pencemaran lingkungan yang terus meningkat terhadap kesehatan manusia.

Menurutnya, vegetasi hutan mampu menyerap berbagai polutan udara sehingga membantu memperbaiki kualitas udara dan menciptakan iklim mikro yang lebih nyaman.

Selain itu, lingkungan hutan menghasilkan senyawa alami berupa phytoncide yang bermanfaat bagi kesehatan.

Interaksi manusia dengan lingkungan hutan melalui konsep healing forest dinilai mampu membantu mengurangi stres, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, serta memperbaiki kesehatan fisik dan psikologis.

Dengan berbagai manfaat tersebut, Prof Siti menegaskan bahwa jasa lingkungan hutan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi pilar strategis dalam memperkuat ketahanan iklim, menjaga keberlanjutan ekosistem, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Jasa lingkungan hutan harus ditempatkan sebagai bagian integral dari kebijakan pembangunan agar tercipta keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (opy)