Pakar IPB Ungkap Bahaya Coercive Control, Kekerasan Psikologis yang Kerap Tak Disadari Korban
Pakar IPB University menjelaskan bahaya coercive control, bentuk kekerasan psikologis yang dapat membuat korban kehilangan kebebasan, kepercayaan diri, dan sulit keluar dari hubungan tidak sehat.

HALLONEWS.ID – Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan yang dialami YTR oleh Taufik Hidayat menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik.
Dalam banyak kasus, korban justru mengalami tekanan psikologis melalui kontrol, manipulasi, hingga intimidasi yang dilakukan secara terus-menerus.
Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr. Yulina Eva Riany, menjelaskan bahwa dalam psikologi kondisi tersebut dikenal sebagai coercive control atau kontrol koersif.
Menurutnya, coercive control merupakan pola perilaku manipulatif yang bertujuan menguasai korban secara perlahan hingga kehilangan kebebasan, rasa aman, kepercayaan diri, bahkan kemampuan mengambil keputusan.
“Yang perlu dikenali bukan hanya satu peristiwa, melainkan pola hubungan yang secara bertahap mengikis otonomi korban,” ujar Dr. Yulina, Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan, konsep yang diperkenalkan oleh Evan Stark tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari mengisolasi korban dari keluarga dan teman, mengontrol komunikasi maupun media sosial, membatasi aktivitas, menguasai keuangan secara sepihak, hingga melakukan gaslighting yang membuat korban meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri.
“Karena berlangsung secara bertahap, perilaku tersebut kerap disalahartikan sebagai bentuk perhatian atau kasih sayang,” ungkapnya.
Dr. Yulina juga menyoroti anggapan yang sering muncul di masyarakat mengenai alasan korban tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.
Menurutnya, persoalan tersebut jauh lebih kompleks dibanding sekadar keinginan untuk pergi.
Korban sering kali menghadapi berbagai hambatan, seperti ketergantungan emosional, tekanan ekonomi, kekhawatiran terhadap anak, ancaman dari pelaku, hingga minimnya dukungan dari lingkungan sekitar.
Dari sisi psikologi, kondisi itu dijelaskan melalui teori attachment, fenomena trauma bonding, dan learned helplessness. Siklus kekerasan yang diselingi permintaan maaf serta janji untuk berubah dapat membentuk ikatan emosional yang kuat antara korban dan pelaku.
“Akibatnya, korban perlahan merasa tidak berdaya dan meyakini bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan mampu mengubah situasi yang dihadapi,” paparnya.
Lebih lanjut, Dr. Yulina mengungkapkan bahwa hubungan yang mengarah pada kekerasan psikologis biasanya berkembang secara perlahan sehingga sulit dikenali sejak awal.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain rasa cemburu dan sikap posesif yang berlebihan, mengontrol pergaulan pasangan, meminta akses penuh terhadap telepon genggam dan media sosial, merendahkan pasangan.
Kemudian membuat pasangan terus merasa bersalah, menggunakan ancaman emosional, melakukan gaslighting, hingga love bombing yang kemudian berubah menjadi perilaku mengendalikan.
Menurutnya, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan psikologis karena perilaku tersebut telah dinormalisasi sebagai bentuk kepedulian dalam hubungan.
Dampak yang ditimbulkan pun tidak ringan. Korban berisiko mengalami stres berkepanjangan, depresi, gangguan kecemasan, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).
Manipulasi yang terus terjadi juga dapat merusak harga diri dan membuat korban kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Dr. Yulina menegaskan bahwa kekerasan psikologis dapat memberikan dampak yang sama berat, bahkan dalam beberapa kasus lebih lama dibandingkan kekerasan fisik karena memengaruhi kondisi mental korban secara mendalam.
Ia pun mengajak keluarga dan lingkungan sekitar untuk berperan aktif memberikan dukungan kepada korban dengan cara mendengarkan tanpa menghakimi, memvalidasi pengalaman yang dialami, serta mendorong korban memperoleh pendampingan psikolog maupun bantuan hukum apabila diperlukan.
“Hal terpenting bagi korban adalah merasa didengar, dipercaya, dan mengetahui bahwa mereka tidak menghadapi situasi tersebut seorang diri,” tutupnya. (opy)
