Harga Kedelai Naik, IPB Sebut Pengrajin Tahu-Tempe Tertekan Ketergantungan Impor

Kenaikan harga kedelai impor akibat pelemahan rupiah menekan pengrajin tahu dan tempe. IPB mendorong penguatan produksi kedelai lokal untuk mengurangi ketergantungan impor

Selasa, 30 Juni 2026 - 22:40 WIB
Harga Kedelai Naik, IPB Sebut Pengrajin Tahu-Tempe Tertekan Ketergantungan Impor
harga kedelai naik. Pelaku UMKM menjerit. (Hallonews/dok)

HALLONEWS.ID – Lonjakan harga kedelai impor menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha tahu dan tempe di Indonesia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa gejolak ekonomi global dapat berdampak langsung terhadap masyarakat, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Dr. Tanti Novianti, menjelaskan industri tahu dan tempe masih sangat bergantung pada kedelai impor.

Ketergantungan yang mencapai sekitar 90 hingga 95 persen membuat harga bahan baku sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Menurutnya, ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pembelian kedelai impor otomatis meningkat meskipun harga kedelai di pasar internasional tidak mengalami kenaikan yang signifikan.

Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi pengrajin tahu dan tempe ikut melonjak.

Di sisi lain, ruang bagi pelaku usaha untuk menaikkan harga jual produk sangat terbatas karena tahu dan tempe merupakan bahan pangan yang dikonsumsi oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.

Kenaikan harga berpotensi mengurangi daya beli konsumen. Akibatnya, banyak pengrajin harus memilih di antara beberapa pilihan sulit.

Mulai dari menaikkan harga jual dengan risiko kehilangan pelanggan, atau mempertahankan harga tetapi mengurangi ukuran produk atau keuntungan, hingga mengurangi kapasitas produksi yang dapat berdampak pada pendapatan pekerja dan keberlangsungan usaha.

Dr. Tanti menilai akar persoalan tersebut terletak pada tingginya ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor.

Sementara kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,5 hingga 2,7 juta ton per tahun, produksi dalam negeri masih belum mampu memenuhi permintaan tersebut.

Selain itu, produktivitas kedelai lokal dinilai masih kalah dibandingkan negara-negara produsen utama.

Meski demikian, ia optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan produksi kedelai nasional.

Potensi lahan pertanian, besarnya pasar domestik, serta pengembangan varietas unggul dinilai dapat menjadi modal untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Ia menekankan bahwa petani membutuhkan dukungan yang lebih menyeluruh, tidak hanya berupa ajakan untuk menanam kedelai.

Pemerintah juga perlu memberikan kepastian harga, akses pasar, penyediaan benih berkualitas, penerapan teknologi pertanian, hingga pendampingan yang berkelanjutan.

Dalam jangka pendek, pemerintah didorong memperkuat upaya stabilisasi harga kedelai, mengawasi distribusi bahan baku, serta memperluas akses pembiayaan dengan bunga terjangkau bagi UMKM melalui skema seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sementara untuk jangka panjang, peningkatan produksi kedelai lokal, penguatan koperasi pengrajin, pengembangan riset varietas unggul, serta modernisasi industri tahu dan tempe dinilai menjadi langkah strategis agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor.

Dr. Tanti menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan beras, tetapi juga mencakup sumber protein masyarakat seperti tahu dan tempe.

Oleh karena itu, kebijakan yang mampu melindungi pengrajin sekaligus memperkuat produksi kedelai dalam negeri perlu terus diperkuat demi menjaga keberlanjutan usaha dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat. (opy)