Di Hamburg, Menteri PPN Tegaskan Aksi Iklim Bisa Ciptakan 5,3 Juta Lapangan Kerja Hijau bagi Indonesia

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menghadiri Hamburg Sustainability Conference 2026 dan menegaskan aksi iklim dapat menciptakan 5,3 juta lapangan kerja hijau serta mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Jumat, 3 Juli 2026 - 15:30 WIB
Di Hamburg, Menteri PPN Tegaskan Aksi Iklim Bisa Ciptakan 5,3 Juta Lapangan Kerja Hijau bagi Indonesia
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyampaikan keynote speech pada Hamburg Sustainability Conference 2026 di Hamburg, Jerman, terkait peluang aksi iklim sebagai pendorong penciptaan jutaan lapangan kerja hijau dan transformasi ekonomi Indonesia. Foto: Humas Bappenas for Hallonews

HALLONEWS.ID – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa aksi iklim tidak lagi semata-mata menjadi agenda pelestarian lingkungan, tetapi telah berkembang menjadi penggerak utama transformasi ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Pesan tersebut disampaikan Rachmat saat mewakili Presiden RI menghadiri Hamburg Sustainability Conference di Hamburg, Jerman, pada 29–30 Juni 2026 lalu.

Dalam keynote speech pada sesi “Why Climate Action Can Become One of The World’s Biggest Job Creators”, Rachmat menekankan bahwa transisi menuju ekonomi hijau akan membuka peluang kerja baru dalam jumlah besar.

Menurutnya, perubahan menuju ekonomi rendah karbon membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan baru, didukung inovasi dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.

“Indonesia memandang aksi iklim sebagai bagian penting dari strategi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Transisi hijau bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas,” ujarnya.

Mengacu pada Green Jobs Roadmap, pemerintah memperkirakan Indonesia mampu menciptakan lebih dari 5,3 juta lapangan kerja hijau pada 2029.

Selain itu, sekitar 72 juta pekerjaan diproyeksikan akan bertransformasi menuju praktik kerja yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Transformasi tersebut akan difokuskan pada sektor energi terbarukan, ekonomi sirkular, serta pengelolaan lahan dan kehutanan berkelanjutan, yang didukung penguatan kualitas sumber daya manusia.

Untuk mempercepat target tersebut, Indonesia juga terus memperkuat kemitraan internasional. Salah satunya melalui kerja sama jangka panjang dengan Pemerintah Jerman melalui GIZ dan Program Strategis GESIT, yang menjadi contoh kolaborasi global dalam mendukung pembangunan hijau.

Di sela-sela konferensi, Rachmat juga menggelar sejumlah pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia, Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Belanda, Menteri Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, serta Board Member and International Affairs Advisor sekaligus mantan Wakil Presiden dan Menteri Luar Negeri Panama.

Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama di bidang pembangunan berkelanjutan, investasi hijau, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Selain menghadiri forum internasional, Menteri PPN juga mengunjungi Sekolah Vokasi Teknik dan Konstruksi BS13 di Hamburg untuk mempelajari sistem pendidikan vokasi Jerman yang dirancang sesuai kebutuhan industri.

Pengalaman tersebut diharapkan menjadi referensi dalam memperkuat pendidikan vokasi dan meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia agar mampu bersaing di era ekonomi hijau.

Rangkaian kunjungan ditutup dengan peninjauan ke Pelabuhan Hamburg dan diskusi bersama Hamburg Port Consulting mengenai pengembangan pelabuhan berkelanjutan.

Sebagai salah satu pelabuhan tersibuk di Eropa, Pelabuhan Hamburg dinilai berhasil menerapkan digitalisasi, efisiensi logistik, serta teknologi ramah lingkungan yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan sektor maritim Indonesia.

Kunjungan kerja Menteri PPN ke Hamburg menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama internasional dalam pembangunan ekonomi hijau, pengembangan sektor maritim, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. (gin)