Lucky Bayu Ungkap Strategi Bangun Ekosistem Bisnis Berbasis Teknologi

WGS Ventures menyiapkan aksi korporasi strategis untuk membangun ekosistem bisnis berkelanjutan berbasis teknologi, ESG, dan carbon trading dengan fokus diversifikasi aset serta pertumbuhan jangka panjang.

Rabu, 10 Juni 2026 - 8:08 WIB
Lucky Bayu Ungkap Strategi Bangun Ekosistem Bisnis Berbasis Teknologi
Komisaris WGS Ventures, Lucky Bayu Purnomo (tengah). Foto: Prana/Hallonews

HALLONEWS.ID – WGS Ventures tengah menyiapkan langkah ekspansi besar melalui serangkaian aksi korporasi yang bertujuan membangun ekosistem bisnis dan keuangan yang berkelanjutan.

Strategi tersebut tidak hanya berfokus pada perluasan portofolio investasi, tetapi juga mengintegrasikan berbagai lini usaha dalam satu rantai nilai yang saling mendukung.

Komisaris WGS Ventures, Lucky Bayu Purnomo, mengatakan perusahaan melihat peluang besar di tengah dinamika pasar global dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Menurutnya, diversifikasi yang dilakukan bukan sekadar menambah jenis investasi, melainkan menciptakan sistem bisnis yang sirkuler dan berkelanjutan.

“Kami ingin membangun ekosistem keuangan yang sirkuler sehingga setiap portofolio saling memberikan nilai tambah dan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Lucky dalam konferensi pers bertajuk WGS Ventures Building the Next Growth Engine: Strategi Pertumbuhan Jangka Panjang Melalui Holding Investasi Berbasis Teknologi di Barito Mansion, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026).

Lucky menjelaskan, salah satu strategi utama perusahaan adalah menghubungkan future value dengan present value, yakni menghadirkan potensi nilai ekonomi masa depan ke dalam valuasi bisnis saat ini.

Pendekatan tersebut, kata dia, tercermin pada sejumlah portofolio perusahaan, termasuk sektor industri yang memiliki rantai bisnis terintegrasi mulai dari bahan baku hingga produk akhir bernilai tambah tinggi.

“WGS Ventures melihat bahwa perjalanan bisnis dari raw material hingga menjadi produk akhir memiliki potensi penciptaan nilai yang besar dan menjadi bagian dari strategi korporasi ke depan,” katanya.

Selain mengembangkan portofolio bisnis, WGS Ventures juga tengah mengevaluasi sejumlah aset yang dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan valuasi perusahaan.

Salah satu aset tersebut adalah nilai appraisal lahan yang diperkirakan mencapai sekitar Rp50 miliar dan belum sepenuhnya tercermin dalam laporan keuangan perusahaan.

Lucky menyebut proses evaluasi masih berlangsung dan akan menjadi bagian dari strategi penguatan fundamental perusahaan.

“Kami memiliki sejumlah hidden value yang akan menjadi perhatian dalam aksi korporasi berikutnya, termasuk aset-aset yang baru diperoleh,” ujarnya.

Tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, WGS Ventures juga menempatkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) sebagai salah satu prioritas utama.

Lucky menegaskan arah pengembangan perusahaan akan selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), ekonomi hijau, hingga pengembangan bisnis berbasis karbon.

Menurutnya, peluang perdagangan karbon (carbon trading) yang mulai berkembang di Indonesia dapat menjadi instrumen strategis dalam memperkuat bisnis berbasis aset.

“Kami melihat berbagai instrumen ekonomi hijau akan menjadi peluang besar yang mampu memberikan nilai tambah sekaligus mendukung keberlanjutan perusahaan,” katanya.

WGS Ventures juga menegaskan transformasinya dari perusahaan pengembang perangkat lunak menjadi entitas investasi berbasis teknologi.

Lucky mengatakan seluruh aktivitas bisnis akan dikelola melalui pendekatan tech-driven dengan model holding investment yang memiliki banyak jalur pengembangan bisnis (multi-pipeline).

Strategi tersebut didukung oleh konsep vendor capital dan pengembangan berbagai protokol bisnis yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan tinggi pada masa depan.
Menurutnya, teknologi kini menjadi faktor utama dalam menciptakan daya saing perusahaan di berbagai sektor industri.

“Dulu kami memulai sebagai perusahaan software, tetapi kini berkembang menjadi tech-driven entity yang mengelola berbagai investasi dan peluang bisnis berbasis inovasi,” jelasnya.

Sebagai penutup, Lucky menyinggung perubahan strategi investasi global, termasuk langkah investor legendaris Warren Buffett yang mulai masuk ke sektor teknologi setelah sebelumnya dikenal fokus pada aset konvensional.
Menurutnya, perubahan tersebut menjadi bukti bahwa teknologi telah menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan pasar modal dunia.

“WGS Ventures ingin menjadi pionir sebagai tech-driven investment entity yang inovatif, adaptif terhadap perubahan, dan mampu menciptakan nilai ekonomi jangka panjang melalui integrasi teknologi dan investasi berkelanjutan,” pungkasnya. (agn)