Purbaya: APBN 2026 Tetap Sehat, Defisit Terkendali dan Program Prioritas Terjaga
APBN 2026 tetap sehat dengan defisit terkendali, menopang pertumbuhan ekonomi serta mendukung delapan program prioritas pemerintah nasional secara berkelanjutan.

HALLONEWS.ID – Pemerintah menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus membiayai berbagai program prioritas nasional di tengah dinamika ekonomi global.
Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat memaparkan Laporan Pelaksanaan APBN Semester I dan Prognosis Semester II Tahun Anggaran 2026 dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Selasa (7/7/2026).
Menurut Purbaya, APBN dirancang tidak hanya sebagai alat fiskal untuk menjaga daya tahan ekonomi, tetapi juga menjadi motor penggerak pelaksanaan delapan agenda prioritas pemerintah.
Program tersebut meliputi penguatan ketahanan pangan dan energi, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, pembangunan desa, pemberdayaan koperasi serta UMKM, penguatan sistem pertahanan, hingga percepatan investasi dan perdagangan global.
“APBN 2026 bekerja keras mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan mendukung agenda prioritas pembangunan nasional dengan tetap menjaga tata kelola keuangan yang sehat, kredibel, dan akuntabel,” ujar Purbaya.
Ia menjelaskan, fundamental ekonomi Indonesia hingga semester pertama 2026 masih menunjukkan kinerja yang solid. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), menjadi capaian tertinggi untuk periode yang sama sejak 2014.
Selain itu, inflasi pada Juni 2026 tetap terkendali di level 3,34 persen. Stabilitas tersebut juga didukung pertumbuhan kredit, membaiknya likuiditas perekonomian, masuknya kembali aliran modal asing, serta cadangan devisa yang tetap kuat.
Dari sisi penerimaan negara, realisasi hingga Semester I 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target APBN, meningkat 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Capaian itu ditopang penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp271 triliun.
Sementara itu, belanja negara terealisasi Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari pagu anggaran. Dana tersebut digunakan untuk mendukung berbagai program strategis, seperti MBG, bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, subsidi, kompensasi, serta transfer ke daerah guna memperkuat pelayanan publik.
Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN Semester I tercatat Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), masih berada dalam batas yang dinilai aman.
“Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian global, peran APBN sangat strategis sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas perekonomian dan daya beli masyarakat, sekaligus menjadi kebijakan counter cyclical untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, adil, dan merata,” kata Purbaya.
Untuk keseluruhan 2026, pemerintah memproyeksikan pendapatan negara mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari target, sedangkan belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6 persen dari pagu anggaran.
Pemerintah memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun berada di kisaran Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap PDB.
Angka tersebut masih berada dalam batas aman sehingga diyakini mampu menjaga kredibilitas fiskal sekaligus mendukung keberlanjutan program prioritas nasional, termasuk MBG, revitalisasi sekolah, Cek Kesehatan Gratis, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih. (agn)
