Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi Indonesia Tembus 8 Persen Berkat Mesin Pertumbuhan Baru
Menkeu Purbaya optimistis ekonomi Indonesia mampu tumbuh delapan persen didukung reformasi fiskal, investasi, ekspor, serta penguatan sektor swasta nasional.

HALLONEWS.ID – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen dapat dicapai. Keyakinan tersebut didasarkan pada mulai bergeraknya berbagai mesin pertumbuhan baru yang diyakini akan memperkuat fondasi perekonomian nasional.
Purbaya mengatakan kondisi ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan meski menghadapi ketidakpastian global.
“Ketika global gonjang-ganjing saja kita masih bisa tumbuh 5,61 persen. Ini kan mesin pertumbuhan ekonomi baru dipanaskan,” ujar Purbaya dalam konferensi pers yang dikutip, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, pemerintah kini tengah mempercepat berbagai instrumen yang dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui optimalisasi lembaga di bawah Kementerian Keuangan, termasuk Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), yang diarahkan menjadi motor penggerak peningkatan ekspor nasional.
Purbaya menjelaskan LPEI telah memiliki Program Pembiayaan Kawasan Ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berorientasi ekspor. Program tersebut menawarkan bunga pembiayaan yang kompetitif, bahkan dapat ditekan hingga 4 persen untuk mendukung daya saing pelaku usaha.
“Di Kementerian Keuangan ada LPEI yang memiliki program pembiayaan bagi UKM eksportir dengan bunga maksimal 6 persen per tahun, bahkan bisa 4 persen apabila dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan,” katanya.
Ia menilai pencapaian target pertumbuhan 8 persen akan dilakukan secara bertahap. Langkah awal adalah membawa ekonomi nasional tumbuh di kisaran 6 persen, kemudian meningkat seiring membaiknya investasi, ekspor, serta produktivitas sektor riil.
Menurut Purbaya, target tersebut realistis apabila kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil berjalan secara selaras serta saling mendukung.
Ia juga menyoroti momentum pemulihan ekonomi yang mulai terlihat sejak akhir 2025. Kondisi tersebut diperkuat melalui berbagai kebijakan pemerintah yang difokuskan pada peningkatan likuiditas, percepatan investasi, penguatan konsumsi masyarakat, serta optimalisasi belanja negara.
Selain itu, Kementerian Keuangan terus mempercepat reformasi fiskal, khususnya di bidang perpajakan dan kepabeanan. Reformasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperluas ruang fiskal untuk membiayai pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Dengan kombinasi reformasi fiskal, penguatan investasi, serta dukungan pembiayaan bagi sektor produktif, pemerintah meyakini target pertumbuhan ekonomi 8 persen bukan sekadar ambisi, melainkan sasaran yang dapat diwujudkan secara bertahap. (agn)
