Iran Tuding AS Jadi Biang Sengketa Selat Hormuz, Meski Pembicaraan Damai Masih Berlangsung
Iran menuduh Amerika Serikat jadi penyebab utama sengketa Selat Hormuz, meski kedua negara mengonfirmasi negosiasi damai masih terus berlangsung di tengah ketegangan kawasan.

HALLONEWS.ID – Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat (AS) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas berlarutnya sengketa di Selat Hormuz.
Namun di saat yang sama, Teheran dan Washington sama-sama mengonfirmasi bahwa jalur diplomasi terkait Selat Hormuz masih dibuka melalui pembicaraan yang berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Juru bicara pemerintah Iran menilai tekanan militer dan kebijakan Washington di kawasan Teluk Persia telah memperumit upaya penyelesaian sengketa terkait pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut Teheran, langkah-langkah yang diambil AS justru menghambat terciptanya stabilitas di salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Meski saling melontarkan tuduhan, kedua negara mengakui komunikasi diplomatik masih berlangsung melalui jalur perantara.
Seperti dilaporkan Al Jazeera, Sabtu (25/7/2026), pembicaraan Iran – AS tersebut difokuskan pada upaya meredakan konflik, menjamin keamanan pelayaran internasional, serta mencari titik temu terkait status Selat Hormuz yang selama ini menjadi sumber ketegangan.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan tidak ada serangan baru Amerika Serikat ke wilayah Iran dalam semalam, menjadi kali pertama dalam sekitar dua pekan terakhir situasi relatif lebih tenang.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi proses negosiasi untuk terus berjalan, meski belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Selat Hormuz memiliki arti strategis bagi perdagangan global karena menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dan gas alam dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia sekaligus mengganggu rantai pasok global.
Sejak konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memanas, isu pengamanan Selat Hormuz menjadi salah satu agenda utama dalam berbagai perundingan. Iran menegaskan bahwa penyelesaian sengketa hanya dapat dicapai melalui penghormatan terhadap kedaulatan negaranya, sementara AS menekankan pentingnya kebebasan navigasi bagi kapal-kapal internasional.
Para analis menilai keberlanjutan dialog menjadi faktor penting untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah. Meski perbedaan posisi kedua negara masih tajam, komunikasi yang tetap terjalin dipandang sebagai sinyal positif untuk menghindari konflik yang lebih luas dan menjaga stabilitas kawasan serta pasar energi global. (wib)
