Bank Syariah Indonesia (BRIS) Salurkan KUR Rp1,65 Triliun hingga Februari 2026
Bank Syariah Indonesia (BRIS) menyalurkan KUR Syariah Rp1,65 triliun hingga Februari 2026, fokus pada sektor produktif untuk dorong ekonomi nasional.

HALLONEW.ID – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) mencatatkan penyaluran pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah sebesar Rp1,65 triliun hingga Februari 2026.
Realisasi tersebut setara dengan 11,1% dari total kuota penyaluran tahun ini dan telah menjangkau lebih dari 11 ribu pelaku usaha di berbagai wilayah Indonesia.
Penyaluran pembiayaan tersebut difokuskan pada sektor-sektor produktif, khususnya makanan dan minuman halal, jasa, serta perdagangan.
Dari total pembiayaan yang disalurkan, sebesar 65% dialokasikan ke sektor produksi dan 35% ke sektor non-produksi, sejalan dengan amanat pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sektor riil.
Manajemen perseroan menegaskan bahwa ekspansi pembiayaan tetap dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, menyampaikan bahwa strategi penyaluran difokuskan untuk menciptakan aktivitas ekonomi yang memiliki nilai tambah sekaligus menjaga kualitas pembiayaan di tengah dinamika ekonomi.
PT Bank BRISyariah didirikan pada tanggal 3 April 1969 dengan nama PT Bank Djasa Arta. Perseroan bergerak sebagai bank umum yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dengan fokus pada layanan perbankan yang sesuai dengan ketentuan syariah.
Pergerakan Harga Saham
Saham BRIS tercatat berada pada harga Rp2.100 dengan kinerja yang cenderung melemah dalam jangka pendek. Dalam satu minggu terakhir, saham turun sebesar 1,41% dan dalam satu bulan melemah 5,83%.
Secara tiga bulanan, saham terkoreksi 3,23%, sementara dalam satu tahun mengalami penurunan sebesar 10,26%. Dalam jangka lebih panjang, saham mencatatkan kenaikan 16,02% dalam tiga tahun terakhir, namun masih terkoreksi 3,89% dalam periode lima tahun.
Analisis Yesinvest
Dari sisi fundamental, penyaluran KUR Syariah yang mencapai Rp1,65 triliun dalam dua bulan pertama tahun 2026 mencerminkan peran aktif perseroan dalam mendorong pembiayaan sektor produktif.
Fokus pada sektor makanan dan minuman halal, jasa, serta perdagangan menunjukkan arah strategi yang selaras dengan pengembangan ekonomi syariah nasional, meskipun tetap perlu memperhatikan kualitas pembiayaan dalam ekspansi yang berkelanjutan.
Dari sisi valuasi, saham BRIS berada pada kisaran yang relatif wajar dibandingkan dengan bank besar lainnya, dengan rasio price to earnings berada di sekitar 12 kali dan price to book value sebesar 1,86 kali.
Namun demikian, tingkat pembagian dividen perseroan tergolong rendah dengan payout ratio yang masih berada di kisaran belasan persen per tahun, yang dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang mengincar imbal hasil dividen.
Secara teknikal, pergerakan saham BRIS saat ini berada dalam fase konsolidasi atau sideways. Area support teridentifikasi di level Rp2.000, sementara resistance berada di kisaran Rp2.480, mencerminkan rentang pergerakan harga yang masih terbatas dalam jangka pendek. (Adi Prasetya Teguh / Research Analyst Yes Invest)
Disclaimer
Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.
Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.
