Diguncang Putusan MA Soal Tarif Global, Pidato Kenegaraan Trump akan Jadi Ajang Pembelaan

Putusan Mahkamah Agung dan ekonomi melemah membuat pidato kenegaraan Trump 24 Februari 2026 diprediksi menjadi ajang pembelaan politik.

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:59 WIB
Diguncang Putusan MA Soal Tarif Global, Pidato Kenegaraan Trump akan Jadi Ajang Pembelaan
Presiden Donald Trump akan menyampaikan pidato kenegaraan di Kongres pada 24 Februari 2026 di tengah tekanan hukum dan ekonomi. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.ID-Menjelang pidato kenegaraan di hadapan Kongres pada Selasa malam, 24 Februari 2026, pukul 21.00 waktu setempat, Presiden Donald Trump menghadapi tekanan politik paling serius sejak kembali menjabat.

Agenda tahunan yang biasanya menjadi panggung unjuk keberhasilan pemerintahan, kini diprediksi berubah menjadi ajang pembelaan, menyusul putusan Mahkamah Agung (MA) yang membatalkan tarif global Trump dan memburuknya indikator ekonomi serta opini publik.

Pada Jumat, 20 Februari 2026, Supreme Court of the United States atau Mahkamah Agung Amerika Serikat (MA AS) membatalkan kebijakan tarif utama yang selama ini digunakan Trump sebagai instrumen tekanan diplomatik dan ekonomi.

Dalam pernyataan resminya pada Jumat sore (20/2/2026), Gedung Putih menyebut putusan tersebut sebagai “langkah yang membatasi fleksibilitas presiden dalam melindungi kepentingan nasional.”

Seorang pejabat senior administrasi mengatakan kepada wartawan pada Sabtu (21/2/2026): “Presiden tidak akan mundur. Kami sedang meninjau semua jalur hukum yang tersedia untuk memastikan kebijakan perdagangan tetap kuat.”

Sebagai respons cepat, pemerintah mengumumkan tarif menyeluruh 10 persen atas impor sembari mencari dasar hukum alternatif.

Data Ekonomi Mengecewakan

Pada hari yang sama, Jumat 20 Februari 2026, pemerintah merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 yang hanya mencapai 1,4 persen (tahunan), di bawah ekspektasi analis sebesar 2,5 persen.

Dalam kampanye di Georgia pada Kamis, 19 Februari 2026, Trump menyatakan: “Saya telah memenangkan isu keterjangkauan. Ekonomi Amerika tetap yang terkuat di dunia.”

Namun, Todd Belt, profesor ilmu politik dari George Washington University, mengatakan: “Publik merasakan langsung harga pangan, sewa, dan bahan bakar. Pesan politik tidak bisa menghapus pengalaman ekonomi sehari-hari.”

Menurutnya, sentimen biaya hidup menjadi faktor krusial menjelang pemilu paruh waktu 3 November 2026.

Kebijakan imigrasi turut memperkeruh situasi. Setelah dua warga negara AS tewas dalam operasi federal di Minneapolis, pemerintah mengumumkan pengurangan pengerahan pasukan di kota tersebut.

Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri menyatakan “Kami akan menyesuaikan taktik operasional tanpa mengurangi komitmen terhadap penegakan hukum.”

Kontroversi juga muncul setelah unggahan video bernuansa rasis terkait Barack Obama di akun Truth Social Trump, yang kemudian diklaim diunggah oleh staf.

Ujian Politik Menuju 2029

Meski mendapat teguran yudisial, Partai Republik masih menguasai DPR dan Senat untuk saat ini. Namun dinamika politik dapat berubah cepat menjelang pemilu paruh waktu.

Trump, yang masa jabatannya berlangsung hingga 2029, menegaskan “Kami akan terus berjuang untuk rakyat Amerika. Tidak ada yang akan menghentikan agenda kami.”

Pidato Selasa malam akan menjadi momentum penting: apakah Trump mampu memulihkan kepercayaan publik, atau justru mempertegas tantangan politik yang kini membayanginya? (ren)