Hadapi Gempuran AI, Menaker Siapkan 450 Ribu Talenta Baru dan Jutaan Peluang Kerja

Menaker Yassierli mengungkap strategi pemerintah menghadapi era AI dengan menyiapkan 450 ribu talenta baru, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat perlindungan pekerja.

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:36 WIB
Hadapi Gempuran AI, Menaker Siapkan 450 Ribu Talenta Baru dan Jutaan Peluang Kerja
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam Sidang Pleno Konferensi Perburuhan Internasional (International Labour Conference/ILC) ke-114. Foto: Kemenaker for Hallonews

HALLONEWS.ID – Pemerintah mulai menyiapkan langkah besar menghadapi perubahan dunia kerja akibat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menargetkan ratusan ribu tenaga kerja baru memiliki keterampilan yang relevan agar tidak tersisih di tengah transformasi teknologi.

Komitmen tersebut disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam Sidang Pleno Konferensi Perburuhan Internasional (International Labour Conference/ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss, Senin (8/6/2026).

Menurut Yassierli, perkembangan AI dan digitalisasi tidak boleh menjadi ancaman bagi pekerja, melainkan peluang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Perubahan teknologi tidak boleh membuat pekerja tertinggal. Indonesia menyiapkan keterampilan, memperluas peluang kerja, dan memperkuat pelindungan pekerja agar masyarakat tetap memiliki masa depan kerja yang layak,” ujar Yassierli.

Ia menjelaskan, pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto telah menempatkan pengembangan kompetensi tenaga kerja sebagai salah satu prioritas nasional.

Salah satu program unggulan adalah Program Pemagangan Nasional bagi lulusan perguruan tinggi. Program ini memberikan pengalaman kerja selama enam bulan sekaligus dukungan uang saku dari pemerintah.

Tahun lalu, program tersebut berhasil menjangkau sekitar 100 ribu peserta dan pada tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 150 ribu peserta.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan Program Pelatihan Vokasi Nasional bagi lulusan SMA dan sederajat dengan target mencapai 300 ribu peserta.

Yassierli menegaskan, seluruh program tersebut dirancang agar dapat diakses secara inklusif oleh perempuan, penyandang disabilitas, hingga masyarakat di wilayah terpencil dan perbatasan.

Tak hanya meningkatkan kualitas tenaga kerja, pemerintah juga berupaya menciptakan lapangan kerja baru melalui berbagai program strategis nasional.

Sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Kampung Nelayan Merah Putih, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Food Estate, hingga proyek hilirisasi industri diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi sekaligus penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Menurut Yassierli, masa depan dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat aspek perlindungan pekerja. Indonesia telah menyerahkan instrumen ratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 188 tentang Pekerjaan dalam Sektor Penangkapan Ikan sebagai bentuk komitmen terhadap standar kerja layak dan keselamatan pekerja, termasuk awak kapal perikanan.

Kemnaker juga tengah menyusun kebijakan nasional bagi pekerja platform digital untuk menjawab tantangan ekonomi digital yang terus berkembang.

Penguatan perlindungan tersebut dilakukan melalui dialog antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja dalam forum kerja sama tripartit nasional, termasuk untuk penyusunan regulasi, peningkatan produktivitas, keselamatan kerja, dan pengembangan pelatihan vokasi.

Dalam forum internasional itu, Yassierli menegaskan kesiapan Indonesia untuk bekerja sama dengan ILO dan berbagai mitra global dalam pengembangan kurikulum pelatihan vokasi, pembangunan pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas, hingga peningkatan kapasitas pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja.

Selain membahas isu ketenagakerjaan global, Indonesia juga kembali menyuarakan dukungannya terhadap rakyat Palestina melalui program pemulihan lapangan kerja dan penguatan kelembagaan ketenagakerjaan di wilayah yang terdampak konflik.

“Indonesia siap bekerja sama dengan ILO dan seluruh pemangku kepentingan untuk memajukan kerja layak, keadilan sosial, dan kesejahteraan bersama. Bersama-sama, kita membangun masa depan kerja yang menghormati martabat pekerja,” tutup Yassierli. (agn)