Harga Minyak Tembus US$108 per Barel, Dunia Cemas Krisis Energi Akibat Perang Timur Tengah
Harga minyak dunia melonjak tajam hingga US$108 per barel pada Senin (9/3/2026). Eskalasi perang di Timur Tengah dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran krisis energi global serta timbulnya biaya hidup.

HALLONEWS.ID – Harga minyak dunia meledak tajam pada Senin (9/3/2026) setelah eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran serius terhadap perbekalan energi global. Lonjakan tersebut menjadi kenaikan harian terbesar dalam enam tahun terakhir dan meledakkan pasar keuangan internasional
Minyak mentah Brent , yang menjadi acuan perdagangan global, tercatat melonjak sekitar 17 persen hingga menyentuh US$108 per barel pada perdagangan awal pekan. Peningkatan ini diperpanjang tajam setelah harga minyak sudah lebih dulu meningkat sekitar 28 persen sepanjang pekan sebelumnya .
Lonjakan tersebut dipicu oleh meningkatnya konflik militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang menimbulkan dampak besar terhadap distribusi energi dunia.
Selat Hormuz Jadi Titik Paling Rawan
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak adalah gangguan keamanan di Selat Hormuz , jalur pelayaran vital yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak global .
Sejumlah perusahaan pelayaran dan kapal tanker minyak melaporkan mulai menunda perjalanan melalui jalur tersebut karena meningkatnya risiko serangan militer dan drone.
Kondisi ini membuat pasokan minyak global terancam terganggu dan memicu lonjakan pasar.
Sejumlah analis energi bahkan memperkirakan harga minyak bisa terus naik jika konflik berkepanjangan.
“Jika gangguan pasokan dari Timur Tengah berlanjut, harga minyak berpotensi menembus US$120 per barel dalam waktu dekat ,” kata sejumlah analis pasar energi yang mencakup perdagangan komoditas global seperti dikutip Sky News.
Trump: Harga Tinggi demi Keamanan Dunia
Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut mengumumkan harga energi tersebut.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa kenaikan harga minyak merupakan konsekuensi dari operasi militer yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
“Ini adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keselamatan dan perdamaian Amerika Serikat serta dunia ,” tulis Trump.
Ia juga menambahkan bahwa harga minyak diperkirakan akan turun kembali setelah konflik mereda dan stabilitas kawasan kembali pulih.
Pasar Saham Asia Terpukul
Lonjakan harga energi langsung menggemparkan pasar keuangan global. Bursa saham di berbagai negara Asia mengalami tekanan pada perdagangan awal Senin (9/3/2026) .
Di Korea Selatan, indeks KOSPI bahkan sempat anjlok lebih dari 8 persen , memicu penutupan perdagangan sementara atau pemutus arus selama 20 menit.
Di pasar mata uang, dolar Amerika Serikat juga menguat tajam dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terhadap euro. Sementara itu, pound sterling tercatat melemah sekitar 0,6 persen terhadap dolar AS .
Ancaman Inflasi Global
Para ekonom memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak berpotensi merusak tekanan inflasi global yang sudah tinggi dalam beberapa tahun terakhir
Kenaikan harga energi biasanya berdampak langsung pada biaya transportasi, logistik, dan produksi industri. Dampaknya bisa menjalar hingga ke harga pangan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Jika konflik di Timur Tengah semakin meluas dan jalur distribusi minyak terganggu lebih lama, dunia berpotensi menghadapi krisis energi baru.
Sejumlah negara bahkan mulai mempertimbangkan penggunaan strategi cadangan minyak serta mempercepat transisi ke energi alternatif guna menjaga stabilitas ekonomi. (ren)
