IPB University Kembangkan Lobster Dederan, Buka Peluang Hilirisasi dan Tingkatkan Nilai Ekonomi BBL
Peneliti IPB University mengembangkan lobster dederan berukuran 10-50 gram sebagai produk antara dalam rantai budi daya lobster. Inovasi ini dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi benih bening lobster (BBL) dan memperkuat hilirisasi sektor perikanan.

HALLONEWS.ID – Peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University mengembangkan inovasi lobster dederan sebagai produk antara dalam rantai budi daya lobster.
Konsep ini diharapkan mampu memperkuat hilirisasi hasil riset sekaligus meningkatkan pemanfaatan benih bening lobster (BBL) secara berkelanjutan.
Ketua tim peneliti, Dr Irzal Effendi, menjelaskan bahwa selama ini komoditas lobster bernilai ekonomi tinggi umumnya hanya dikenal dalam dua segmen utama, yakni benih bening lobster dan lobster konsumsi dengan ukuran di atas 150 gram per ekor.
Untuk menjembatani kedua segmen tersebut, tim peneliti memperkenalkan lobster dederan berukuran 10 hingga 50 gram per ekor sebagai produk baru yang memiliki potensi pasar sekaligus memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha perikanan.
“Melalui kajian ilmiah yang kami lakukan, kami mencoba memperkenalkan lobster dederan sebagai produk baru. Harapannya, ke depan produksi lobster konsumsi dapat berasal dari hasil pembesaran yang dilakukan masyarakat,” ujar Dr Irzal, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, konsep lobster dederan lahir dari pemahaman mengenai siklus hidup lobster di alam yang memiliki tingkat kematian sangat tinggi pada fase larva hingga benih akibat predasi.
Melalui sistem akuakultur yang terkontrol, tingkat kelangsungan hidup lobster dapat ditingkatkan sehingga sumber daya yang sebelumnya hilang di alam dapat dimanfaatkan secara lebih produktif.
Hasil penelitian menunjukkan lobster membutuhkan waktu sekitar 140 hari untuk mencapai ukuran 20 hingga 30 gram per ekor. Selain itu, metode pemeliharaan BBL menggunakan sistem dasar laut dinilai mampu menghasilkan performa produksi yang lebih baik dibandingkan metode lainnya.
Dari sisi ekonomi, usaha lobster dederan juga dinilai memiliki prospek yang menjanjikan. Berdasarkan kajian tim peneliti, lobster dederan berukuran sekitar 50 gram memiliki harga jual rata-rata Rp26.676 per ekor.
Sementara itu, harga benih ideal diperkirakan tidak melebihi Rp18.000 per ekor agar usaha pembesaran tetap memberikan keuntungan bagi pembudi daya sekaligus menjaga kesejahteraan nelayan penangkap benih.
“Perhitungan yang kami lakukan menunjukkan usaha lobster dederan memiliki nilai revenue cost ratio sebesar 1,28. Artinya, usaha ini layak secara ekonomi untuk dikembangkan,” jelasnya.
Peluang pasar lobster dederan juga dinilai masih terbuka lebar. Permintaan dari pasar internasional, terutama Vietnam dan Tiongkok, masih tergolong tinggi.
Pada periode tertentu, seperti menjelang perayaan Tahun Baru Imlek ketika pasokan dari alam menurun, harga lobster mutiara bahkan dapat menembus Rp950 ribu per kilogram.
Selain mengembangkan teknologi budi daya, IPB University juga mendorong penerapan model usaha lobster dederan berbasis masyarakat.
Sejumlah daerah seperti Simeulue, Kaimana, dan Halmahera Selatan telah menunjukkan minat untuk bekerja sama dalam program pelatihan dan pendampingan budi daya lobster.
Dr Irzal menegaskan, keberhasilan pengembangan sektor ini tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang terlibat dalam proses produksi.
“Kunci utama ada pada kemampuan masyarakat. Karena itu, kami ingin membangun kapasitas pembudi daya agar mampu mengelola usaha lobster secara baik dan berkelanjutan,” katanya.
Saat ini, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) lobster hasil penelitian IPB University telah mencapai 71 persen.
Tim peneliti menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 73 persen pada 2026 dan mencapai 75 hingga 78 persen pada 2027 melalui penyempurnaan teknologi pemeliharaan, pakan, serta manajemen budi daya.
Pengembangan lobster dederan diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan nilai tambah sektor perikanan nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir di berbagai daerah Indonesia. (opy)
