Ketegangan Selat Hormuz Memuncak Setelah Iran Pasang Ranjau Laut

Ketegangan di Selat Hormuz memuncak setelah Iran dilaporkan memasang ranjau laut di jalur pelayaran vital dunia. Konflik ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global hingga berdampak pada ekonomi Indonesia.

Kamis, 12 Maret 2026 - 15:00 WIB
Ketegangan Selat Hormuz Memuncak Setelah Iran Pasang Ranjau Laut
ilustrasi selat Hormuz (dok Yes Invest)

HALLONEWS.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah laporan intelijen menyebut Iran mulai memasang ranjau laut di jalur pelayaran strategis dunia, Selat Hormuz.

Langkah ini muncul di tengah eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang telah memicu gangguan signifikan pada perdagangan energi global.

Sejumlah sumber menyebut Iran menempatkan sekitar selusin ranjau laut di perairan sempit tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Penempatan ranjau ini berpotensi menghambat pembukaan kembali jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute energi paling vital di dunia. Konflik yang berlangsung lebih dari satu pekan ini bahkan telah membuat ekspor minyak dan gas alam cair melalui wilayah tersebut praktis terhenti.

Sebagai respons, militer Amerika Serikat melancarkan operasi untuk menetralkan ancaman tersebut dan dilaporkan menghancurkan 16 kapal penebar ranjau milik Iran yang beroperasi di kawasan itu.

Namun hingga kini, Washington belum memberikan pengawalan resmi bagi kapal komersial yang melintas di selat tersebut, sehingga risiko keamanan bagi kapal tanker masih sangat tinggi.

Ketegangan di wilayah tersebut juga memicu serangkaian insiden terhadap kapal dagang. Beberapa kapal dilaporkan terkena proyektil atau mengalami kerusakan di sekitar perairan Teluk, memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi gangguan besar terhadap jalur perdagangan energi global.

Peran Selat Hormuz dalam perdagangan energi global membuat setiap gangguan di kawasan tersebut langsung berdampak besar terhadap pasar komoditas.

Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan volume signifikan gas alam cair melewati jalur sempit ini setiap hari. Ketika lalu lintas kapal tanker terganggu, pasar energi langsung merespons dengan lonjakan harga minyak yang tajam.

Ketegangan terbaru bahkan memicu peringatan dari pejabat militer Iran bahwa harga minyak berpotensi melonjak ekstrem jika konflik terus berlanjut.

Beberapa analis pasar energi juga memperkirakan harga minyak dapat menembus US$100 hingga US$200 per barel apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.

Dampak Bagi Ekonomi Indonesia

Bagi Indonesia, eskalasi konflik di Selat Hormuz memiliki implikasi besar terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, lonjakan harga energi global berpotensi meningkatkan beban impor migas serta memperbesar tekanan inflasi domestik, terutama melalui kenaikan biaya transportasi dan energi industri.

Di pasar modal Indonesia, kondisi ini dapat menciptakan sentimen campuran. Di satu sisi, kenaikan harga energi global dapat memberikan sentimen positif bagi emiten sektor komoditas energi seperti batu bara dan migas. Namun di sisi lain, sektor yang sensitif terhadap biaya energi seperti transportasi, manufaktur, dan logistik berpotensi menghadapi tekanan margin jika harga minyak tetap tinggi.

Oleh karena itu, perkembangan konflik di Timur Tengah dan stabilitas jalur energi global akan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi arah sentimen investor di pasar keuangan Indonesia dalam waktu dekat. (Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)

 

Disclaimer

Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.

Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.