Dievakuasi dari Iran, Mahasiswa Asal Bekasi Ceritakan Suasana Serangan AS dan Israel
Muhammad Jawad, mahasiswa asal Bekasi yang dievakuasi dari Iran, menceritakan kondisi kota tempat tinggalnya yang tetap tenang meski konflik dengan AS dan Israel memanas.

HALLONEWS.ID – Ketika kabar serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mulai menyebar, Muhammad Jawad sebenarnya sudah memiliki rencana pulang ke Indonesia.
Mahasiswa asal Indonesia berusia 26 tahun itu tidak sedang melarikan diri dari perang. Ia hanya ingin kembali ke rumahnya di Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, sesuai rencana yang sudah ia susun jauh hari bersama istrinya, Zainab Alkubro.
Serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026 membuat ruang udara Iran ditutup. Maskapai penerbangan membatalkan sejumlah jadwal penerbangan internasional. Rencana pulang Jawad yang dijadwalkan pada 3 Maret pun otomatis batal.
“Sebetulnya saya ikut evakuasi bukan karena takut. Memang saya dan istri sudah ada rencana pulang, tapi penerbangannya dibatalkan,” kata Jawad kepada wartawan saat tiba di Indonesia, Selasa (10/3/2026).
Ketika pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran membuka pendataan warga negara Indonesia yang ingin dievakuasi, Jawad dan istrinya langsung mendaftarkan diri.
Tak lama kemudian, mereka menjadi bagian dari rombongan 33 WNI yang dipulangkan ke tanah air. “Alhamdulillah kemarin kami sampai di Indonesia dengan selamat,” ujarnya.
Jawad bukan pendatang baru di Iran. Ia sudah tinggal di negara tersebut sejak 2017 untuk menempuh pendidikan di Al-Mustafa International University di kota Mashhad.
Ia mengambil program sarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, yang kini telah ia selesaikan. Saat ini, Jawad sedang menunggu proses pendaftaran untuk melanjutkan studi magister.
Selama menempuh pendidikan, istrinya ikut tinggal bersamanya di Iran sambil mengikuti kelas non-akademik. Meski dunia internasional menyoroti meningkatnya ketegangan militer, Jawad mengatakan kehidupan sehari-hari di tempat tinggalnya relatif berjalan normal.
Mashhad berada cukup jauh dari ibu kota Teheran yang menjadi titik utama serangan. “Selama di sana normal saja,” kata Jawad.

Ia bahkan menyebut aktivitas warga tetap berlangsung seperti biasa. Orang-orang masih keluar rumah untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Suasana kota sempat lebih lengang ketika pemerintah Iran menetapkan libur nasional selama tujuh hari untuk masa berkabung setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Pada masa itu banyak pertokoan, perkantoran, hingga kampus tutup sementara. Namun kehidupan masyarakat tetap berjalan. “Bahkan dari informasi teman saya, di Teheran yang jadi sasaran serangan juga masih normal,” ujarnya.
Jawad sendiri tidak pernah melihat langsung serangan rudal selama berada di Mashhad.
Saat hendak mengikuti proses evakuasi, ia melakukan perjalanan darat menggunakan kereta api menuju Teheran yang memakan waktu sekitar 10 hingga 12 jam.
Sepanjang perjalanan, ia mengatakan kondisi relatif aman. “Perjalanan lancar, tidak ada suara ledakan,” katanya.
Baru ketika berada di kompleks Kedutaan Besar RI di Teheran, Jawad mendengar beberapa dentuman. Menurutnya, suara itu berasal dari rudal yang dicegat oleh sistem pertahanan udara Iran.
“Selebihnya saya tidak pernah mendengar ledakan. Kondisinya seperti tidak ada perang,” ujarnya.
Di balik situasi yang menegangkan secara geopolitik, Jawad justru melihat sesuatu yang membuatnya terkesan: rasa nasionalisme warga Iran.
Selama tinggal di sana, ia menilai masyarakat Iran memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap pemimpin dan militernya.
“Dari masyarakatnya, mereka memang punya kepercayaan penuh kepada pemimpin dan militernya,” kata Jawad.
Kepercayaan itu terlihat dari dukungan publik terhadap langkah pemerintah Iran dalam merespons serangan dari Amerika Serikat dan Israel.
“Apapun yang terjadi, mereka selalu mendukung keputusan pemerintah dan militer,” tandasnya. (dul)
