Lonjakan Harga Sulfur Tekan Industri Nikel, Huayou Pangkas Produksi di Indonesia

Lonjakan harga sulfur hingga US$1.300 per ton memaksa Zhejiang Huayou Cobalt memangkas produksi nikel di Indonesia, menekan industri HPAL dan mengancam hilirisasi.

Sabtu, 2 Mei 2026 - 7:00 WIB
Lonjakan Harga Sulfur Tekan Industri Nikel, Huayou Pangkas Produksi di Indonesia
Ilustrasi bahan baku nikel. (Dok Yes Invest for Hallonews)

HALLONEWS.ID – Zhejiang Huayou Cobalt memutuskan memangkas produksi fasilitas pengolahan nikel di Indonesia akibat lonjakan harga sulfur yang signifikan.

Anak usahanya, Huafei Nickel & Cobalt, akan menghentikan sementara sebagian lini produksi mulai 1 Mei 2026 sebagai bagian dari langkah penyesuaian operasional.

Keputusan ini dipicu oleh kenaikan tajam harga sulfur yang menjadi bahan baku utama dalam proses high-pressure acid leach (HPAL).

Harga sulfur untuk pengiriman ke Indonesia tercatat melampaui US$800 per ton, bahkan mencapai kisaran US$ 960 hingga US$ 1.300 per ton, jauh meningkat dibandingkan sekitar US$ 275 per ton pada tahun sebelumnya.

Kondisi ini diperparah oleh gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang menyumbang sekitar seperempat pasokan global dan 75% kebutuhan Indonesia.

Penghentian sebagian operasi di fasilitas Huafei diperkirakan berdampak pada sekitar 50% kapasitas produksi. Sebelumnya, sejumlah produsen HPAL di Indonesia, termasuk Lygend Resources dan Tsingshan Group, juga telah memangkas output setidaknya 10% sejak Maret.

Tekanan biaya yang meningkat, ditambah kenaikan royalti dan perubahan formula Harga Patokan Mineral (HPM), membuat biaya operasional melonjak hingga mendekati 200% dan dinilai tidak berkelanjutan secara bisnis.

Pelaku industri mulai mencari strategi mitigasi untuk mengurangi ketergantungan pada sulfur impor. Salah satunya melalui penggunaan bahan alternatif seperti pirit yang mengandung sulfur.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) telah melakukan uji coba pencampuran pirit dalam proses produksi guna menjaga efisiensi biaya, di tengah kekhawatiran bahwa tekanan ini dapat memicu penurunan kapasitas lebih lanjut bahkan potensi penghentian operasi di sejumlah fasilitas.

Dari sisi global, lonjakan harga sulfur yang dipicu gangguan pasokan dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memperketat rantai pasok bahan baku industri baterai.

Hal ini dapat berdampak pada kenaikan biaya produksi kendaraan listrik serta meningkatkan volatilitas harga komoditas terkait nikel dan turunannya di pasar internasional.

Sementara bagi Indonesia, tekanan terhadap industri HPAL berisiko menghambat momentum hilirisasi nikel yang selama ini menjadi andalan. Penurunan produksi dan kenaikan biaya dapat mempengaruhi daya saing ekspor serta investasi sektor smelter, meskipun upaya diversifikasi bahan baku dan efisiensi operasional diharapkan mampu menjaga keberlanjutan industri dalam jangka panjang.(Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)

 

Disclaimer
Artikel ini merupakan produk jurnalistik Hallo News yang disusun berdasarkan informasi, data, dan narasumber yang dianggap kredibel pada saat penulisan. Seluruh konten disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi, serta bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat untuk membeli, menjual, maupun menahan instrumen investasi atau produk keuangan tertentu.

Segala keputusan yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pembaca. Hallo News tidak bertanggung jawab atas segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari penggunaan informasi dalam artikel ini.