Mantan Pangeran Inggris Andrew Mountbatten-Windsor Ditangkap, Diduga Bocorkan Rahasia ke Epstein
Polisi Inggris menangkap mantan Pangeran Inggris Andrew Mountbatten-Windsor, adik Raja Charles III, atas dugaan membocorkan dokumen rahasia negara kepada Jeffrey Epstein.

HALLONEWS.ID-Kepolisian Inggris menangkap mantan Pangeran Inggris Andrew Mountbatten-Windsor, adik Raja Charles III, atas dugaan pelanggaran jabatan publik dan kebocoran dokumen rahasia negara kepada Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual yang telah divonis di Amerika Serikat.
Penangkapan ini dilakukan pada Kamis (19/2/2026) di wilayah Norfolk, menandai pertama kalinya dalam sejarah modern Inggris seorang anggota keluarga kerajaan ditahan atas tuduhan kejahatan publik.
“Hari ini kami telah menangkap seorang pria berusia enam puluhan dari Norfolk atas dugaan pelanggaran jabatan publik,” ujar Kepolisian Thames Valley dalam keterangan resmi.
Meski tidak menyebut nama, berbagai media Inggris memastikan bahwa yang dimaksud adalah Andrew Mountbatten-Windsor, yang sejak 2025 telah dicabut seluruh gelar kerajaan dan status kehormatannya oleh Raja Charles III.
Diduga Bocorkan Dokumen Rahasia
Kasus ini berawal dari temuan email tahun 2010 yang menunjukkan bahwa Andrew mengirim laporan diplomatik bersifat rahasia kepada Epstein saat masih menjabat sebagai utusan perdagangan Inggris.
Laporan itu memuat hasil kunjungan resmi ke beberapa negara Asia, termasuk analisis ekonomi dan peluang investasi strategis. Dokumen yang seharusnya bersifat internal pemerintah itu diduga dikirimkan secara pribadi kepada Epstein.
Polisi juga menggeledah dua properti yang terkait dengan Andrew di Berkshire dan Norfolk, termasuk kompleks kerajaan Sandringham, tempat ia diketahui tinggal sejak awal Februari.
Raja Charles: “Hukum Harus Ditegakkan”
Dalam pernyataan resmi yang jarang dikeluarkan, Raja Charles III menegaskan bahwa proses hukum terhadap adiknya harus berjalan secara terbuka dan adil.
“Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Proses penyelidikan ini harus berjalan adil dan menyeluruh,” tegas Charles melalui pernyataan Istana Buckingham.
Sumber internal istana menyebut Raja Charles “sangat kecewa” dan menilai peristiwa ini sebagai krisis reputasi paling serius bagi monarki Inggris dalam dua dekade terakhir.
Ancaman Hukuman Seumur Hidup
Menurut Crown Prosecution Service (CPS), pelanggaran jabatan publik termasuk dalam kategori kejahatan berat dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.
Andrew kini masih dalam penahanan, dan polisi memiliki waktu 24 jam untuk menentukan apakah ia akan didakwa secara resmi atau masa penahanannya diperpanjang.
Publik Inggris menyambut penangkapan ini dengan beragam reaksi. Sebagian menilai langkah hukum tersebut menandakan akhir dari era impunitas bangsawan Inggris.
“Ini pesan kuat: tidak ada yang kebal hukum, bahkan anggota kerajaan sekalipun,” ujar Emma Carter, pengacara asal London.
Bayang-Bayang Skandal Epstein
Nama Andrew telah lama dikaitkan dengan jaringan kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Pada 2022, ia menyelesaikan gugatan perdata dari Virginia Giuffre, korban perdagangan seks Epstein, tanpa mengakui kesalahan.
Namun, dokumen baru dari Departemen Kehakiman AS kembali menyingkap komunikasi intens Andrew dengan Epstein, termasuk rencana investasi dan perjalanan pribadi menggunakan jet yang dikenal media Inggris sebagai “Lolita Express.”
Sembilan kepolisian di Inggris kini meninjau ulang catatan penerbangan dan laporan perdagangan manusia yang mungkin terkait jaringan Epstein.
Kasus Andrew memperparah krisis kepercayaan terhadap monarki Inggris di bawah kepemimpinan Raja Charles III.
Editorial The Guardian menilai penangkapan Andrew sebagai “momen paling kritis bagi monarki sejak kematian Putri Diana.”
“Ini bukan sekadar skandal pribadi, tetapi ujian bagi moralitas dan masa depan monarki Inggris,” tulis harian tersebut. (ren)
