Memanas! Iran Serang UEA, AS Paksa Buka Blokade Selat Hormuz

Iran dilaporkan menyerang UEA dengan rudal dan drone, sementara AS berupaya membuka Selat Hormuz. Ketegangan Timur Tengah kian meningkat.

Selasa, 5 Mei 2026 - 8:00 WIB
Memanas! Iran Serang UEA, AS Paksa Buka Blokade Selat Hormuz
Penampakan kebakaran di fasilitas minyak milik Uni Emirat Arab (UEA) akibat serangan Iran (akun X monitorx for Hallonews)

HALLONEWS.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Iran dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke Uni Emirat Arab (UEA), di tengah upaya Amerika Serikat membuka blokade Selat Hormuz.

Laporan terbaru dari Sky News, Selasa (5/5/2026) menyebutkan sekitar 15 rudal ditembakkan ke wilayah UEA.

Sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, namun serangan tersebut tetap memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik yang lebih luas.

Selain serangan rudal, sebuah drone dilaporkan menghantam fasilitas minyak di Fujairah hingga memicu kebakaran.

Kawasan ini merupakan salah satu titik penting distribusi energi dunia, sehingga insiden tersebut langsung berdampak pada stabilitas pasar global.

Di tengah situasi tersebut, Donald Trump mengambil langkah tegas dengan mengerahkan kekuatan militer Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Jalur ini diketahui menjadi salah satu rute paling vital bagi distribusi minyak dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan global melewati kawasan tersebut.

Pemerintah AS menyebut operasi ini sebagai upaya menjaga stabilitas dan memastikan arus perdagangan tetap berjalan. Namun, Iran menilai langkah tersebut sebagai provokasi yang berpotensi melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Ketegangan semakin meningkat setelah muncul laporan bahwa Iran juga menargetkan kapal perang AS. Meski demikian, pihak Washington membantah klaim tersebut dan menegaskan situasi masih dalam kendali.

Dampak konflik mulai terasa di berbagai sektor. Sejumlah penerbangan menuju UEA dialihkan demi keamanan, sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan akibat meningkatnya risiko militer.

Di sisi lain, konflik regional semakin kompleks dengan masih berlangsungnya operasi militer Israel di Lebanon.

Serangan dan ledakan dilaporkan terus terjadi di wilayah perbatasan, menambah ketidakpastian di kawasan.

Jika ketegangan antara Iran dan AS tidak segera mereda, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

Selain ancaman keamanan, dunia juga dihadapkan pada risiko gangguan pasokan energi yang dapat memicu lonjakan harga minyak global.

Hingga kini, upaya diplomasi internasional terus didorong untuk meredakan situasi. Namun, dengan intensitas konflik yang terus meningkat, jalan menuju perdamaian masih menghadapi tantangan besar.(wib)