Mencekam! Konflik Berdarah Pecah di Adonara Timur, BNPB Laporkan 3 Orang Tewas

BNPB melaporkan konflik berdarah di Adonara Timur, Flores Timur, menewaskan tiga orang dan melukai tujuh warga. Dalam laporan BNPB, bentrokan pecah sekitar pukul 06.15 WITA dan melibatkan warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dengan warga Desa Narasaosina.

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:00 WIB
Mencekam! Konflik Berdarah Pecah di Adonara Timur, BNPB Laporkan 3 Orang Tewas
Konflik antarwarga antara Dusun Bele, Desa Waiburak, dan Desa Narasaosina pecah di Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT. Foto/BNPB for Hallonews

HALLONEWS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyoroti bentrokan berdarah di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini menjadi salah satu peristiwa menonjol di tengah dominasi bencana kekeringan dan karhutla.

Konflik sosial yang terjadi di Kecamatan Adonara Timur pada Sabtu (18/7/2026) itu menewaskan tiga orang dan menyebabkan tujuh warga lainnya mengalami luka-luka.

Dalam laporan BNPB, bentrokan pecah sekitar pukul 06.15 WITA dan melibatkan warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dengan warga Desa Narasaosina.

“Selain menimbulkan korban jiwa, konflik tersebut juga mengakibatkan kerusakan sejumlah aset milik warga,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Minggu (19/7/2026).

BNPB mencatat sedikitnya 20 rumah terdampak, satu bangunan usaha rusak, serta satu unit sepeda motor ikut menjadi korban amuk massa.

Tak lama setelah bentrokan terjadi, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Flores Timur bersama aparat TNI dan Polri langsung diterjunkan ke lokasi.

Wakil Bupati Flores Timur, Ketua DPRD, Dandim 1624 Flores Timur, Wakil Kapolres Flores Timur, Sekretaris Daerah, hingga anggota DPRD turun langsung melakukan pendekatan persuasif untuk menghentikan bentrokan.

Sekitar pukul 07.30 WITA, aparat mulai menguasai situasi dan melakukan pengamanan guna mencegah konflik meluas. Hingga Minggu (19/7/2026), aparat keamanan masih disiagakan di lokasi untuk menjaga kondisi tetap kondusif sekaligus mengantisipasi bentrokan susulan.

Di balik bentrokan berdarah tersebut, muncul dugaan bahwa konflik dipicu sengketa batas tanah yang berkaitan dengan klaim lokasi pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih).

Wakil Komandan Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda NTT AKP Antonio Cortareal mengatakan persoalan batas wilayah dan klaim sepihak atas lahan menjadi pemicu bentrokan yang kembali pecah.

“Masalah batas tanah dan klaim sepihak lokasi tanah untuk Kopdes Merah Putih,” kata Antonio kepada wartawan.

Untuk mengantisipasi situasi semakin memanas, satu peleton personel Brimob dari Markas Komando Brimob Maumere telah dikerahkan ke Pulau Adonara guna memperkuat pengamanan.

Meski demikian, dugaan keterkaitan dengan pembangunan Kopdes Merah Putih bukan kali pertama mencuat.

Saat bentrokan serupa terjadi pada Maret 2026, Kementerian Koperasi telah menegaskan bahwa konflik antara Desa Waiburak dan Desa Narasaosina bukan disebabkan pembangunan koperasi, melainkan dipicu sengketa tanah ulayat yang telah berlangsung turun-temurun.

Sekretaris Kementerian Koperasi Ahmad Zabadi saat itu menyatakan pembangunan Kopdes Merah Putih hanya bertepatan dengan konflik yang sudah lama terjadi.

“Konflik yang terjadi antar kedua desa tidak terkait dengan pembangunan Kopdes Merah Putih. Ini merupakan konflik lama yang dipicu sengketa tanah ulayat yang sudah berlangsung turun-temurun,” kata Zabadi dalam keterangannya.

Ironisnya, bentrokan kembali pecah hanya dua hari setelah Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengunjungi Pulau Adonara.

Pada Kamis (16/7/2026), Suharyanto meresmikan hunian tetap dan sumur bor di Desa Bugalima, Kecamatan Adonara Barat, sebagai bagian dari pemulihan pascakonflik.

Dalam kunjungan tersebut, ia juga menyaksikan prosesi ikrar damai antara tokoh masyarakat Desa Bugalima dan Desa Ilepati yang ditandai dengan pertukaran sarung sebagai simbol perdamaian. (dul)