Mentan Amran Minta Tertibkan Impor Gula Rafinasi, Petani Tebu Kian Tertekan

Mentan Amran soroti rembesan gula rafinasi ke pasar konsumsi yang menekan harga dan membuat gula petani tidak terserap.

Kamis, 9 April 2026 - 14:48 WIB
Mentan Amran Minta Tertibkan Impor Gula Rafinasi, Petani Tebu Kian Tertekan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Senayan, Jakarta. Foto: Kementan for Hallonews

HALLONEWS.ID – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti kondisi petani tebu yang semakin tertekan akibat terganggunya penyerapan gula produksi dalam negeri.

Di tengah kebutuhan gula nasional yang masih tinggi, justru terjadi fenomena masuknya gula rafinasi ke pasar konsumsi. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama anjloknya harga gula petani.

Pernyataan tersebut disampaikan Amran dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI di Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

“Kita temukan rembesan gula rafinasi yang masuk ke pasar sebagai gula konsumsi. Ini sangat membahayakan karena menekan harga dan membuat gula petani tidak terserap,” tegasnya.

Paradoks Impor di Tengah Stok Dalam Negeri
Amran menilai persoalan utama tidak hanya terletak pada produksi, tetapi juga pada tata niaga gula nasional yang belum berpihak pada petani.

Ia menyoroti adanya kondisi paradoks: Indonesia masih melakukan impor gula, namun gula hasil produksi petani justru tidak terserap di pasar.

“Di satu sisi kita masih impor gula, tapi di sisi lain gula dalam negeri tidak terserap. Ini kondisi yang janggal,” ujarnya.

Fenomena serupa juga terjadi pada komoditas turunan seperti molase. Harga yang sebelumnya mencapai Rp1.900 per liter kini turun drastis menjadi sekitar Rp1.000 per liter pada Maret 2026.

Dampak tata niaga yang tidak sehat juga dirasakan oleh sektor industri.

Kepala Badan Pengelola BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa perusahaan gula pelat merah mengalami kerugian signifikan.

“Sugar Co membukukan rugi Rp680 miliar pada 2025 akibat harga yang tidak cukup baik, yang dipicu oleh impor gula yang tidak terkontrol,” ujarnya.

Ia menilai banjir gula rafinasi impor tidak hanya menekan harga di tingkat petani, tetapi juga mengganggu stabilitas industri gula nasional.

Berdasarkan proyeksi 2025, luas panen tebu mencapai 563.357 hektare dengan produksi Gula Kristal Putih (GKP) sekitar 2,67 juta ton.
Namun, kebutuhan gula nasional mencapai 6,7 juta ton, terdiri dari: 2,8 juta ton gula konsumsi, dan 3,9 juta ton gula industri.

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa impor masih diperlukan, tetapi tata kelolanya harus lebih terkendali agar tidak merugikan petani.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mengambil langkah penertiban distribusi gula rafinasi melalui kebijakan larangan dan pembatasan (lartas), serta memperketat pengawasan agar tidak bocor ke pasar konsumsi.

Di sisi hulu, pemerintah juga mendorong peningkatan produksi melalui program peremajaan tebu (bongkar ratoon).

Amran menyebut mayoritas tanaman tebu nasional saat ini sudah tidak produktif.
“Sekitar 70–80 persen tanaman tebu kita sudah tua. Kami sudah anggarkan Rp1,7 triliun untuk peremajaan sekitar 300 ribu hektare,” jelasnya.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan bahwa kunci swasembada gula tidak hanya pada produksi, tetapi juga jaminan penyerapan hasil petani.

“Sekarang terjadi paradoks, kita impor gula, sementara gula petani tidak laku. Ini karena banjir gula rafinasi ke pasar konsumsi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kepastian harga dan pasar akan menjadi faktor utama dalam meningkatkan semangat petani.

“Kalau gula petani dijamin dibeli dengan harga baik, pasti petani semangat. Karena itu pengawasan gula rafinasi harus diperketat,” tegasnya.

Dengan langkah penertiban tata niaga dan peningkatan produksi secara bersamaan, pemerintah optimistis kesejahteraan petani tebu dapat meningkat sekaligus mempercepat target swasembada gula konsumsi nasional. (agn)